Kamis, 21 September 2023

PENGEMBANGAN DAN MODIFIKASI RESEP TELUR SAKURA

 









PENGEMBANGAN DAN MODIFIKASI RESEP

TELUR SAKURA

Disusun oleh : Salsabila Halomoan Putri dan Krisnina Putri Cahayani

Dibimbing oleh : Siti Fatonah, S.Gz., M.Gz., RD.


A.    Pendahuluan

Salah satu sistem pendukung yang mempercepat kesembuhan pasien adalah sistem pelayanan makanan di rumah sakit. Pelayanan gizi rumah sakit berperan dalam penentu kualitas pelayanan. Pelayanan gizi rumah sakit berupa suatu penyelenggaraan makanan kepada pasien diawali dari perencanaan menu sampai pendistribusian dalam rangka pencapaian status gizi yang optimal melalui pemberian diet yang tepat. Makanan yang disajikan di rumah sakit dibuat dengan menyesuaikan kondisi pasien agar mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan pasien.1,2

Menurut Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit tahun 2013, penyelenggaraan makanan di rumah sakit sisa makanan di rumah sakit dikategorikan baik bila terdapat sisa makanan ≤20% dan dikategorikan tidak baik bila sisa makanan ≥20%.3 Sisa makanan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal yaitu pola konsumsi makan yang memengaruhi nafsu makan dan faktor eksternal yaitu cita rasa makanan, penampilan makanan, variasi menu, cara penyajian, kebersihan alat makan, dan pengaturan waktu makan. Aroma dan rasa dari makanan yang disajikan dapat meningkatkan selera makan anak dan tekstur makanan memengaruhi dalam mengonsumsi hidangan.4

Untuk meningkatkan selera makan pasien rawat inap dapat dilakukan dengan memodifikasi resep yang telah ada. Modifikasi resep adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan menu sehingga lebih berkualitas dalam hal rasa, warna, aroma, tekstur, dan nilai gizi. Selain itu, juga merupakan cara untuk menambah keanekaragaman menu pada suatu institusi. Modifikasi resep perlu dilakukan agar makanan yang disajikan kepada konsumen menjadi menarik sehingga akan meningkatkan selera makan serta meminimalisasi rasa kejenuhan dan sisa porsi makanan pada konsumen.1

Pada RSUD. Dr. H. Soewondo Kendal menu makan pagi pada siklus hari ke-11 terdiri dari nasi, telur curry, tahu kuning bacem, dan tumis jagung manis. Olahan telur curry kurang cocok bila dipasangkan dengan tahu kuning bacem sehingga dilakukan modifikasi menu pada telur curry menjadi telur sakura. Telur sakura memiliki bentuk yang lebih menarik dan nilai gizi yang lebih tinggi. Tekstur yang dimiliki telur sakura juga lebih renyah bila dibandingkan dengan telur curry sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya terima makan pasien.5

 

B.     Resep Masakan Lama

Menu Telur Curry

1.     1.  Standar Resep Menu Lama

a.      Deskripsi Produk

Telur curry merupakan olahan lauk hewani yang terbuat dari telur ayam dan dipadukan oleh bumbu curry. Telur ayam direbus dalam bentuk utuh dan kemudian ditumis bersama dengan bumbu curry yang terdiri dari banyak rempah. Telur curry disajikan dengan sedikit kuah dan memiliki cita rasa yang tajam.

b.      Bahan (100 Porsi)

Bahan :

-          Telur ayam                  6,25 kg

Bumbu :

-          Bumbu dasar kuning   300 gr

-          Jinten bubuk                5 gr

-          Kayu manis                 10 cm

-          Garam                         40 gr

-          Gula pasir                    20 gr

-          Daun salam                 3 lembar

-          Daun jeruk                  2 lembar

-          Sere                             2 batang

-          Kelapa parut                1 bungkus

c.       Prosedur Pembuatan

1)      Merebus telur hingga matang dan mengupas kulitnya. Sisihkan

2)      Menumis semua bumbu hingga harum 

3)      Masukkan telur dan tumis sebentar bersama bumbu

4)      Masukkan cairan santan dari kelapa parut dan mengaduk hingga rata

5)      Menambahkan garam dan gula. Koreksi rasa

6)      Menunggu hingga mendidih

7)      Angkat dan sajikan telur curry 

d.      Foto Makanan




Gambar 1. Telur Curry

2.      2. Analisis Nilai Gizi

Tabel 1. Analisis Nilai Gizi Pada Menu Telur Curry

Bahan Makanan

Jumlah

(gr)

Energi

(kkal)

Protein

(gr)

Lemak

(gr)

Karbohidrat

(gr)

Serat (gr)

Telur ayam

62,5

96,25

0,44

7,75

6,75

0

Total

96,25

0,44

7,75

6,75

0

 

C.    Modifikasi Resep

1.      1. Standar Resep Menu Baru

a.      Bahan (10 Porsi)

Isi Telur Sakura :

-          Telur                            7 butir

-          Jamur kuping              50 gr

-          Daun bawang              3 batang

-          Wortel                         100 gr

-          Air                               70 ml

-          Bumbu dasar merica   20 gr

-          Minyak wijen              15 gr

-          Minyak goreng            secukupnya

-          Tepung maizena          150 gr

-          Maseko                        5 gr

Saus :

-          Bawang bombay         1 buah

-          Bawang putih              5 siung

-          Air                               200 ml

-          Saori saus tiram          2 bungkus

-          Tepung maizena          15 gr

-          Mentega                      10 gr

-          Gula                            5 gr

b.      Cara Pembuatan

Telur Sakura :

1)      Memotong dadu jamur kuping, daun bawang, dan wortel.

2)      Memecahkan telur dan memasukkan bumbu dasar merica, garam, air serta minyak wijen. Mengaduk secara rata.

3)      Masukkan jamur kuping, daun bawang, dan wortel ke dalam kocokan telur. Mengaduk secara rata.

4)      Masukkan telur yang telah diaduk ke cetakan

5)      Merebus/mengukus plastik isi telur. Tunggu hingga matang merata

6)      Mengeluarkan telur sakura yang sudah matang dari cetakan dan baluri dengan tepung maizena. Goreng hingga keemasan.

Saus :

1)      Menumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum

2)      Masukkan air dan tambahkan saori saus tiram.

3)      Tunggu hingga mendidih Masukkan tepung maizena dan aduk hingga rata.

c.       Foto Makanan



Gambar 2. Telur Sakura

2.      2. Analisis Nilai Gizi

            Tabel 2. Analisis Nilai Gizi Pada Menu Telur Sakura

Bahan Makanan

Jumlah

(gr)

Energi

(kkal)

Protein

(gr)

Lemak

(gr)

Karbohidrat

(gr)

Serat (gr)

Telur

38,50

59,29

0,27

4,77

4,16

0,00

Wortel

10,00

3,60

0,79

0,10

0,06

0,10

Jamur kuping

5,00

1,05

0,05

0,19

0,03

0,25

Daun bawang

5,00

2,05

0,39

0,10

0,02

0,10

Minyak wijen

1,50

13,22

0,00

0,00

1,50

0,00

Minyak goreng

5,00

44,20

0,00

0,00

4,90

0,00

Tepung maizena

15,00

57,15

13,69

0,04

0,01

0,00

Saori

1,20

0,60

1,10

0,01

0,00

0,00

Mentega

1

7,42

0,91

0,00

0,10

0,00

Total

188,58

17,19

5,21

10,77

0,46

 

3.      3. Analisis Biaya

Tabel 3. Analisis Biaya Pada Menu Telur Sakura

Bahan Makanan

Berat

(gr)

Konversi satuan

(kg)

Harga satuan

Harga per porsi

Telur

38,50

0,0385

Rp34.000,00

Rp1.309,00

Wortel

10,00

0,01

Rp20.800,00

Rp208,00

Jamur kuping

5,00

0,005

Rp23.000,00

Rp115,00

Daun bawang

5,00

0,005

Rp15.900,00

Rp79,50

Minyak wijen

1,50

0,0015

Rp50.000,00

Rp75,00

Minyak goreng

5,00

0,005

Rp30.700,00

Rp153,50

Tepung maizena

15,00

0,015

Rp57.000,00

Rp855,00

Saori

1,20

0,0012

Rp48.000,00

Rp57,60

Mentega

1

0,001

Rp33.800,00

Rp33,80

Total

Rp2.886,40

Bumbu (10%)

Rp288,64

Food Cost

Rp3.175

 

D.    Evaluasi Modifikasi Resep

Evaluasi modifikasi resep dilakukan untuk mengetahui penilaian terhadap menu yang telah dimodifikasi agar dapat meningkatkan mutu resep dan makanan agar dapat dikonsumsi lebih nikmat. Evaluasi modifikasi resep ‘Telur Sakura’ dilakukan dengan pengujian organoleptik terhadap 10 panelis dengan menggunakan indikator penilaian warna, aroma, tekstur, dan rasa. Uji organoleptik dilakukan dengan menggunakan uji hedonik, dengan skala sangat suka, suka, kurang suka, dan tidak suka. Berdasarkan hasil pengujian organoleptik modifikasi resep ‘Telur Sakura’ dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Hasil Penilaian Uji Organoleptik Terhadap Modifikasi Resep

Aspek yang dinilai

Kategori

N

Frekuensi (%)

Warna makanan

Sangat suka

1

10%

Suka

8

80%

Kurang suka

1

10%

Tidak suka

-

-

Aroma makanan

Sangat suka

1

10%

Suka

8

80%

Kurang suka

1

10%

Tidak suka

-

-

Rasa makanan

Sangat suka

-

-

Suka

7

70%

Kurang suka

3

30%

Tidak suka

-

-

Tekstur makanan

Sangat suka

1

10%

Suka

9

90%

Kurang suka

-

-

Tidak suka

-

-

 

Pada Tabel 4. terdapat hasil penilaian organoleptik terhadap modifikasi resep yang telah dilakukan, yaitu Telur Sakura. Penilaian organoleptik dapat dilihat pada Gambar 3. terkait grafik penilaian organoleptik pada Telur Sakura.

Gambar 3. Grafik Penilaian Organoleptik Telur Sakura

Hasil penilaian organoleptik dari indikator warna menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai warna makanan, 8 dari 10 panelis menyukai warna makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai warna makanan. Warna merupakan salah satu parameter yang penting karena memiliki respon paling cepat dan mudah dalam memberikan kesan yang baik. Warna merupakan kesan pertama yang muncul dan dinilai oleh panelis karena menggunakan indera penglihatan. Warna yang menarik akan memberikan pengaruh selera yang baik untuk panelis atau konsumen untuk mengonsumsi produk.5

Hasil penilaian organoleptik dari indikator aroma menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai aroma makanan, 8 dari 10 panelis menyukai aroma makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai aroma makanan. Aroma adalah salah satu parameter dalam pengujian organoleptik yang menggunakan indera penciuman. Aroma dapat diterima apabila bahan yang dihasilkan memiliki aroma yang spesifik. Aroma ditimbulkan dari rangsangan kimia yang tercium oleh saraf olfaktori yang berada di rongga hidung.6

Hasil penilaian organoleptik dari indikator tekstur menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai tekstur makanan dan 9 dari 10 panelis menyukai tekstur makanan. Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau sentuhan. Tekstur dianggap penting seperti bau, rasa dan aroma karena dapat mempengaruhi citra makanan.5 

Hasil penilaian organoleptik dari indikator rasa menunjukkan bahwa 7 dari 10 panelis menyukai rasa makanan dan 3 dari 10 panelis kurang menyukai rasa makanan. Rasa merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan suatu produk dapat diterima atau tidak oleh konsumen. Dalam penginderaan cecapan manusia dibagi empat cecapan utama yaitu manis, pahit, asam dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan modifikasi. Pemberian cita rasa pada olahan makanan dapat dilakukan dengan penambahan berbagai bumbu dan bahan kimia yang diizinkan, seperti garam dapur, gula, dan bahan lainnya.5 

E.     Pembahasan

Modifikasi resep adalah merubah formula asli berdasarkan kualitas yang diharapkan secara terbatas untuk mencapai kualitas yang diharapkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi dan daya terima agar dapat mengurangi rasa bosan/ jenuh pada klien.1 Modifikasi resep dapat dilakukan dengan cara mengubah resep dasar menjadi resep baru untuk meningkatkan penampilan pada bentuk, rasa, warna, aroma, dan suhu makanan namun, tetap memperhatikan bahan utama dari resep awal dan mengandung nilai gizi sesuai standar. Adanya modifikasi resep agar dapat diterima dengan baik oleh pasien.7

Berdasarkan hasil pengamatan siklus menu yang berlaku di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal teknik pengolahan, bentuk, dan tekstur menu telur masih belum bervariasi. Teknik pengolahan telur umumnya menggunakan metode digoreng atau direbus dengan bumbu tertentu. Bentuk dan tekstur olahan telur umumnya masih berbentuk bulat telur. Bentuk dan tekstur yang bervariasi juga dapat meningkatkan selera makan pasien. Teknik pengolahan yang beragam dapat menghasilkan menu yang bervariasi. Variasi menu dapat menghilangkan rasa bosan pada responden.8 Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi resep telur agar lebih bervariasi dan dapat meningkatkan selera makan dan daya terima pasien. Pada modifikasi resep telur sakura, teknik pengolahan yang digunakan adalah pengukusan dan penggorengan. Bentuk yang dihasilkan dalam modifikasi resep ini adalah bunga dan bisa berganti sesuai dengan cetakan yang digunakan. Penambahan bahan air pada olahan, dapat merubah tekstur telur sakura menjadi lebih lembut.

Berdasarkan hal diatas, maka dilakukan modifikasi resep lauk hewani yaitu membuat Telur Sakura. Modifikasi resep lauk hewani Telur Sakura membutuhkan waktu yang singkat dan terbuat dari campuran aneka sayuran yang dikukus dan di goreng. Campuran aneka sayuran yang digunakan antara lain adalah jamur kuping, wortel, serta daun bawang yang membuat modifikasi resep telur sakura memiliki serat yang tinggi. Selain itu, aneka sayuran yang digunakan membuat modifikasi telur sakura menjadi lebih bertekstur renyah yang dapat meningkatkan nafsu makan pasien.9 Adanya tambahan saus tiram ketika penyajian membuat cita rasa telur sakura semakin meningkat. Bentuk penyajian telur sakura juga dilakukan dengan bentuk yang beragam dengan berat yang sama. Modifikasi telur sakura dapat meningkatkan variasi menu sehingga pasien tidak merasa bosan dan dapat menghilangkan persepsi pasien terhadap bahan lauk hewani yang disajikan seperti olahan telur yang kurang bervariasi dalam hal bentuk, tekstur, aroma serta cita rasa.

Berdasarkan uji organoleptik terhadap warna modifikasi lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis menyukai warna makanan, 8 dari 10 panelis menyukai warna makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai warna makanan. Warna merupakan kesan pertama yang muncul dan dinilai oleh panelis karena menggunakan indera penglihatan. Warna yang menarik akan memberikan pengaruh selera yang baik untuk panelis atau konsumen untuk mengonsumsi produk. Warna yang dihasilkan pada pengolahan telur sakura adalah coklat keemasan. Selain warna coklat, pada produk telur sakura juga terdapat warna oranye, coklat kehitaman, dan hijau. Warna ini didapatkan dari komposisi yang terkandung didalamnya yaitu wortel, jamur kuping, dan daun bawang. Warna coklat keemasan pada telur sakura disebabkan karena adanya proses penggorengan sehingga terjadi reaksi Maillard yang menghasilkan warna coklat. Reaksi Maillard adalah reaksi yang terjadi antara gula pereduksi dengan asam amino.5 Akumulasi pigmen coklat adalah indikasi yang menunjukkan terjadinya reaksi Maillard pada makanan yang mengandung protein dan karbohidrat.10 Penampilan makanan yang disajikan dapat mempengaruhi indera penglihatan. Kombinasi warna yang beragam dapat menarik perhatian dan meningkatkan selera makan konsumen.11

Berdasarkan uji organoleptik terhadap aroma modifikasi lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai aroma makanan, 8 dari 10 panelis menyukai aroma makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai aroma makanan. Aroma adalah salah satu parameter dalam pengujian organoleptik yang menggunakan indera penciuman.6 Aroma merupakan reaksi makanan yang akan mempengaruhi konsumen sebelum konsumen menikmati makanan. Penilaian terhadap aroma makanan bersifat subjektif pada masing-masing panelis. Pada produk telur sakura terdapat penilaian yang menyatakan bahwa produk masih beraroma amis. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan bumbu atau penambahan minyak wijen untuk menutupi aroma amis dari telur.

Berdasarkan uji organoleptik terhadap tekstur modifikasi lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai tekstur makanan dan 9 dari 10 panelis menyukai tekstur makanan. Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau sentuhan. Tekstur dianggap penting seperti bau, rasa dan aroma karena dapat mempengaruhi citra makanan.5 Tekstur makanan seperti lunak atau lembek, keras atau kering, kenyal, krispi, berserat, dan halus memengaruhi sensitivitas indera pengecapan dan memengaruhi kecepatan mengunyah yang akhirnya akan berdampak pada banyaknya makanan yang dikonsumsi.4 Tekstur yang terdapat pada modifikasi menu telur sakura merupakan tekstur yang lembut. Tekstur sayuran yang terdapat pada telur sakura memberikan kesan renyah yang tidak terlalu lunak sehingga cocok dengan perpaduan telur yang lembut. Saus yang disajikan juga memiliki tekstur yang cukup kental sehingga cocok saat disajikan bila dibandingkan dengan saus dengan tekstur yang cair.

Berdasarkan uji organoleptik terhadap rasa modifikasi lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 7 dari 10 panelis menyukai rasa makanan dan 3 dari 10 panelis kurang menyukai rasa makanan. Rasa merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan suatu produk dapat diterima atau tidak oleh konsumen. Dalam penginderaan cecapan manusia dibagi empat cecapan utama yaitu manis, pahit, asam dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan modifikasi. Pemberian cita rasa pada olahan makanan dapat dilakukan dengan penambahan berbagai bumbu dan bahan kimia yang diizinkan, seperti garam dapur, gula, dan bahan lainnya.5 Rasa yang terdapat dari telur sakura ini adalah gurih. Beberapa panelis menyampaikan bahwa telur sakura memiliki rasa yang enak namun memiliki rasa saus tiram yang cukup asin. Hal ini dapat terjadi karena ketika proses pembuatan saus, air yang ditambahkan untuk mengencerkan saus kurang banyak sehingga rasa saus yang dihasilkan cukup asin. 

Hasil daya terima terhadap hidangan modifikasi secara keseluruhan menunjukkan sebagian besar panelis menyatakan suka pada penilaian terhadap produk telur sakura. Hal ini disebabkan karena adanya bentuk, warna, dan tekstur yang baik. Bentuk dan warna yang menarik dapat membantu dalam meningkatkan nafsu makan pasien. Selain itu, nilai gizi yang terkandung dari telur sakura lebih tinggi dari nilai gizi telur curry yaitu dari energi, karbohidrat, dan serat. Biaya yang dibutuhkan dalam membuat satu porsi telur sakura adalah Rp3.185. Biaya ini tentunya lebih tinggi dibandingkan apabila membuat satu porsi telur curry karena membutuhkan bahan makanan yang lebih banyak. Hal yang masih perlu diperbaiki adalah rasa dari saus tiram yang masih terlalu asin. Sehingga untuk produksi telur sakura berikutnya, disarankan untuk tidak menumis bumbu menggunakan mentega karena akan membuat rasa saus menjadi lebih asin.  

F.     Penutup

1.      1. Kesimpulan

Pengembangan resep lauk hewani pada menu telur curry dengan memodifikasi menu menjadi telur sakura. Telur sakura diproduksi menggunakan metode dikukus dan digoreng. Telur sakura memiliki bentuk yang menarik dan tekstur yang renyah. Nilai gizi yang terkandung dalam hidangan modifikasi ini adalah energi 188,58 kkal, karbohidrat 17,19 gr, protein 5,21 gr, lemak 10,77 gr, dan serat 0,46 gr. Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai uji organoleptik menunjukkan bahwa sebagian besar panelis suka terhadap aspek rasa, aroma, tekstur, dan warna.

2.      2. Saran

Hasil modifikasi menu telur sakura memerlukan evaluasi dan pengembangan resep lebih lanjut sebelum diterapkan terutama dalam hal rasa. Selain itu dapat membakukan resep masakan dalam standar resep agar hasil makanan memuaskan.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Dwipangesti S, Chandradewi AA, Suranadi L, Sofiyatin R. PENGARUH MODIFIKASI RESEP TEMPE TERHADAP DAYA TERIMA. Jurnal Gizi Prima (Prime Nutrition Journal). 2021 Nov 28;6(2):125-31.

2.      Emiliana E, Dhesa DB, Mayangsari R. Analisis Pelaksanaan Pelayanan Gizi Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmiah Karya Kesehatan. 2021 Nov 25;2(01):16-24.

3.      Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Dan Anak. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS). Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. The Dictionary of Genomics, Transcriptomics and Proteomics. 2013

4.      Tanuwijaya LK, Sembiring LG, Dini CY, Arfiani EP, Wani YA. Sisa makanan pasien rawat inap: analisis kualitatif. Indonesian Journal of Human Nutrition. 2018 Jun 30;5(1):51-61.

5.      Lamusu D. Uji organoleptik jalangkote ubi jalar ungu (ipomoea batatas l) sebagai upaya diversifikasi pangan. Jurnal Pengolahan Pangan. 2018 Jun 30;3(1):9-15.

6.      Negara JK, et al. Aspek Mikrobiologis serta Sensori (Rasa, Warna, Tekstur, Aroma) pada Dua Bentuk Penyajian Keju yang Berbeda. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan. 2016; 4 (2)

7.      Mutia CS, Rachmawati R. Pengaruh modifikasi menu makanan lunak terhadap tingkat kepuasan pasien dan sisa makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan. 2020 Sep 18;1(2):152-8.

8.      Tanuwijaya LK, Novitasari TD, Arfiani EP, Wani YA, Wulandari DE. Kepuasan pasien terhadap variasi bahan makanan di rumah sakit. Jurnal Gizi. 2019;8(1).

9.      Thania E, Magdalena K, Ningsih RW, Nuraelah A, Rosmiyati A. Daya Terima Pasien Terhadap Menu Makanan Biasa Tanpa Diet Khusus di RS PMI Bogor. Jurnal Gizi dan Kuliner (Journal of Nutrition and Culinary).;2(1):1-8.

10.  Agustini S. Pengaruh Modifikasi Proses Terhadap Kualitas Sensoris Kue Delapan Jam. Jurnal Dinamika Penelitian Industri. 2015; 26 (2)

11.  Triastuti S, Rahmawati AY, Mintarsih SN. Pengaruh Variasi Penyajian Makanan Terhadap Persepsi Penampilan dan Daya Terima Makanan pada Pasien Anak di RSUD Banyumas. Jurnal Riset Gizi. 2017; 5(2)

 



0 komentar:

Posting Komentar