PENGEMBANGAN DAN MODIFIKASI RESEP
TELUR
SAKURA
Disusun oleh : Salsabila Halomoan Putri dan Krisnina Putri Cahayani
Dibimbing oleh : Siti Fatonah, S.Gz., M.Gz., RD.
A.
Pendahuluan
Salah satu sistem pendukung yang mempercepat
kesembuhan pasien adalah sistem pelayanan makanan di rumah sakit. Pelayanan
gizi rumah sakit berperan dalam penentu kualitas pelayanan. Pelayanan gizi
rumah sakit berupa suatu penyelenggaraan makanan kepada pasien diawali dari
perencanaan menu sampai pendistribusian dalam rangka pencapaian status gizi
yang optimal melalui pemberian diet yang tepat. Makanan yang disajikan di rumah
sakit dibuat dengan menyesuaikan kondisi pasien agar mempercepat proses
penyembuhan dan pemulihan pasien.1,2
Menurut Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit tahun 2013,
penyelenggaraan makanan di rumah sakit sisa makanan di rumah sakit dikategorikan
baik bila terdapat sisa makanan ≤20% dan dikategorikan tidak baik bila sisa
makanan ≥20%.3 Sisa makanan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal yaitu pola konsumsi
makan yang memengaruhi nafsu makan dan faktor eksternal yaitu cita rasa
makanan, penampilan makanan, variasi menu, cara penyajian, kebersihan alat
makan, dan pengaturan waktu makan. Aroma dan rasa dari makanan yang disajikan
dapat meningkatkan selera makan anak dan tekstur makanan memengaruhi dalam
mengonsumsi hidangan.4
Untuk meningkatkan selera makan pasien rawat inap
dapat dilakukan dengan memodifikasi resep yang telah ada. Modifikasi resep
adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan menu sehingga lebih berkualitas dalam
hal rasa, warna, aroma, tekstur, dan nilai gizi. Selain itu, juga merupakan
cara untuk menambah keanekaragaman menu pada suatu institusi. Modifikasi resep
perlu dilakukan agar makanan yang disajikan kepada konsumen menjadi menarik
sehingga akan meningkatkan selera makan serta meminimalisasi rasa kejenuhan dan
sisa porsi makanan pada konsumen.1
Pada RSUD. Dr. H. Soewondo Kendal menu makan pagi pada
siklus hari ke-11 terdiri dari nasi, telur curry, tahu kuning bacem, dan
tumis jagung manis. Olahan telur curry kurang cocok bila dipasangkan
dengan tahu kuning bacem sehingga dilakukan modifikasi menu pada telur curry
menjadi telur sakura. Telur sakura memiliki bentuk yang lebih menarik dan nilai
gizi yang lebih tinggi. Tekstur yang dimiliki telur sakura juga lebih renyah
bila dibandingkan dengan telur curry sehingga diharapkan dapat
meningkatkan daya terima makan pasien.5
B.
Resep Masakan Lama
Menu Telur Curry
1. 1. Standar Resep Menu
Lama
a.
Deskripsi Produk
Telur curry merupakan olahan lauk hewani yang terbuat dari telur
ayam dan dipadukan oleh bumbu curry. Telur ayam direbus dalam bentuk
utuh dan kemudian ditumis bersama dengan bumbu curry yang terdiri dari
banyak rempah. Telur curry disajikan dengan sedikit kuah dan memiliki
cita rasa yang tajam.
b.
Bahan (100 Porsi)
Bahan :
-
Telur ayam 6,25 kg
Bumbu :
-
Bumbu dasar kuning 300 gr
-
Jinten bubuk 5 gr
-
Kayu manis 10 cm
-
Garam 40 gr
-
Gula pasir 20 gr
-
Daun salam 3 lembar
-
Daun jeruk 2 lembar
-
Sere 2 batang
-
Kelapa parut 1 bungkus
c.
Prosedur Pembuatan
1)
Merebus telur hingga
matang dan mengupas kulitnya. Sisihkan
2)
Menumis semua bumbu
hingga harum
3)
Masukkan telur dan
tumis sebentar bersama bumbu
4)
Masukkan cairan
santan dari kelapa parut dan mengaduk hingga rata
5)
Menambahkan garam dan
gula. Koreksi rasa
6)
Menunggu hingga
mendidih
7) Angkat dan sajikan telur curry
d.
Foto Makanan


Gambar 1. Telur Curry
2. 2. Analisis Nilai Gizi
Tabel 1. Analisis Nilai Gizi Pada Menu Telur Curry
|
Bahan Makanan |
Jumlah (gr) |
Energi (kkal) |
Protein (gr) |
Lemak (gr) |
Karbohidrat (gr) |
Serat (gr) |
|
Telur ayam |
62,5 |
96,25 |
0,44 |
7,75 |
6,75 |
0 |
|
Total |
96,25 |
0,44 |
7,75 |
6,75 |
0 |
|
C.
Modifikasi Resep
1. 1. Standar Resep Menu
Baru
a.
Bahan (10 Porsi)
Isi Telur Sakura :
-
Telur 7 butir
-
Jamur kuping 50 gr
-
Daun bawang 3 batang
-
Wortel 100 gr
-
Air 70 ml
-
Bumbu dasar merica 20 gr
-
Minyak wijen 15 gr
-
Minyak goreng secukupnya
-
Tepung maizena 150 gr
-
Maseko 5 gr
Saus :
-
Bawang bombay 1 buah
-
Bawang putih 5 siung
-
Air 200 ml
-
Saori saus tiram 2 bungkus
-
Tepung maizena 15 gr
-
Mentega 10 gr
-
Gula 5 gr
b.
Cara Pembuatan
Telur Sakura :
1)
Memotong dadu jamur kuping,
daun bawang, dan wortel.
2)
Memecahkan telur dan
memasukkan bumbu dasar merica, garam, air serta minyak wijen. Mengaduk secara
rata.
3)
Masukkan jamur
kuping, daun bawang, dan wortel ke dalam kocokan telur. Mengaduk secara rata.
4)
Masukkan telur yang
telah diaduk ke cetakan
5)
Merebus/mengukus
plastik isi telur. Tunggu hingga matang merata
6)
Mengeluarkan telur
sakura yang sudah matang dari cetakan dan baluri dengan tepung maizena. Goreng
hingga keemasan.
Saus :
1)
Menumis bawang bombay
dan bawang putih hingga harum
2)
Masukkan air dan
tambahkan saori saus tiram.
3)
Tunggu hingga
mendidih Masukkan tepung maizena dan aduk hingga rata.
c.
Foto Makanan

Gambar 2. Telur Sakura
2. 2. Analisis Nilai Gizi
Tabel 2. Analisis Nilai Gizi Pada Menu Telur Sakura
|
Bahan Makanan |
Jumlah (gr) |
Energi (kkal) |
Protein (gr) |
Lemak (gr) |
Karbohidrat (gr) |
Serat (gr) |
|
Telur |
38,50 |
59,29 |
0,27 |
4,77 |
4,16 |
0,00 |
|
Wortel |
10,00 |
3,60 |
0,79 |
0,10 |
0,06 |
0,10 |
|
Jamur kuping |
5,00 |
1,05 |
0,05 |
0,19 |
0,03 |
0,25 |
|
Daun bawang |
5,00 |
2,05 |
0,39 |
0,10 |
0,02 |
0,10 |
|
Minyak wijen |
1,50 |
13,22 |
0,00 |
0,00 |
1,50 |
0,00 |
|
Minyak goreng |
5,00 |
44,20 |
0,00 |
0,00 |
4,90 |
0,00 |
|
Tepung maizena |
15,00 |
57,15 |
13,69 |
0,04 |
0,01 |
0,00 |
|
Saori |
1,20 |
0,60 |
1,10 |
0,01 |
0,00 |
0,00 |
|
Mentega |
1 |
7,42 |
0,91 |
0,00 |
0,10 |
0,00 |
|
Total |
188,58 |
17,19 |
5,21 |
10,77 |
0,46 |
|
3. 3. Analisis Biaya
Tabel 3. Analisis Biaya Pada Menu Telur Sakura
|
Bahan Makanan |
Berat (gr) |
Konversi satuan (kg) |
Harga satuan |
Harga per porsi |
|
Telur |
38,50 |
0,0385 |
Rp34.000,00 |
Rp1.309,00 |
|
Wortel |
10,00 |
0,01 |
Rp20.800,00 |
Rp208,00 |
|
Jamur kuping |
5,00 |
0,005 |
Rp23.000,00 |
Rp115,00 |
|
Daun bawang |
5,00 |
0,005 |
Rp15.900,00 |
Rp79,50 |
|
Minyak wijen |
1,50 |
0,0015 |
Rp50.000,00 |
Rp75,00 |
|
Minyak goreng |
5,00 |
0,005 |
Rp30.700,00 |
Rp153,50 |
|
Tepung maizena |
15,00 |
0,015 |
Rp57.000,00 |
Rp855,00 |
|
Saori |
1,20 |
0,0012 |
Rp48.000,00 |
Rp57,60 |
|
Mentega |
1 |
0,001 |
Rp33.800,00 |
Rp33,80 |
|
Total |
Rp2.886,40 |
|||
|
Bumbu (10%) |
Rp288,64 |
|||
|
Food Cost |
Rp3.175 |
|||
D.
Evaluasi Modifikasi
Resep
Evaluasi modifikasi resep dilakukan untuk mengetahui
penilaian terhadap menu yang telah dimodifikasi agar dapat meningkatkan mutu
resep dan makanan agar dapat dikonsumsi lebih nikmat. Evaluasi modifikasi resep
‘Telur Sakura’ dilakukan dengan pengujian organoleptik terhadap 10 panelis
dengan menggunakan indikator penilaian warna, aroma, tekstur, dan rasa. Uji
organoleptik dilakukan dengan menggunakan uji hedonik, dengan skala sangat
suka, suka, kurang suka, dan tidak suka. Berdasarkan hasil pengujian
organoleptik modifikasi resep ‘Telur Sakura’ dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Hasil Penilaian Uji Organoleptik Terhadap
Modifikasi Resep
|
Aspek yang dinilai |
Kategori |
N |
Frekuensi (%) |
|
Warna makanan |
Sangat suka |
1 |
10% |
|
Suka |
8 |
80% |
|
|
Kurang suka |
1 |
10% |
|
|
Tidak suka |
- |
- |
|
|
Aroma makanan |
Sangat suka |
1 |
10% |
|
Suka |
8 |
80% |
|
|
Kurang suka |
1 |
10% |
|
|
Tidak suka |
- |
- |
|
|
Rasa makanan |
Sangat suka |
- |
- |
|
Suka |
7 |
70% |
|
|
Kurang suka |
3 |
30% |
|
|
Tidak suka |
- |
- |
|
|
Tekstur makanan |
Sangat suka |
1 |
10% |
|
Suka |
9 |
90% |
|
|
Kurang suka |
- |
- |
|
|
Tidak suka |
- |
- |
Pada Tabel 4. terdapat hasil penilaian
organoleptik terhadap modifikasi resep yang telah dilakukan, yaitu Telur
Sakura. Penilaian organoleptik dapat dilihat pada Gambar 3. terkait
grafik penilaian organoleptik pada Telur Sakura.

Gambar
3. Grafik Penilaian Organoleptik Telur Sakura
Hasil penilaian organoleptik dari indikator warna
menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai warna makanan, 8 dari 10
panelis menyukai warna makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai warna
makanan. Warna merupakan salah satu parameter yang penting karena memiliki
respon paling cepat dan mudah dalam memberikan kesan yang baik. Warna merupakan
kesan pertama yang muncul dan dinilai oleh panelis karena menggunakan indera
penglihatan. Warna yang menarik akan memberikan pengaruh selera yang baik untuk
panelis atau konsumen untuk mengonsumsi produk.5
Hasil penilaian organoleptik dari indikator aroma
menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai aroma makanan, 8 dari 10
panelis menyukai aroma makanan, dan 1 dari 10 panelis kurang menyukai aroma makanan.
Aroma adalah salah satu parameter dalam pengujian organoleptik yang menggunakan
indera penciuman. Aroma dapat diterima apabila bahan yang dihasilkan memiliki
aroma yang spesifik. Aroma ditimbulkan dari rangsangan kimia yang tercium oleh
saraf olfaktori yang berada di rongga hidung.6
Hasil penilaian organoleptik dari indikator tekstur
menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat menyukai tekstur makanan dan 9 dari
10 panelis menyukai tekstur makanan. Tekstur adalah penginderaan yang
dihubungkan dengan rabaan atau sentuhan. Tekstur dianggap penting seperti bau,
rasa dan aroma karena dapat mempengaruhi citra makanan.5
Hasil penilaian organoleptik dari indikator rasa menunjukkan bahwa 7 dari 10 panelis menyukai rasa makanan dan 3 dari 10 panelis kurang menyukai rasa makanan. Rasa merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan suatu produk dapat diterima atau tidak oleh konsumen. Dalam penginderaan cecapan manusia dibagi empat cecapan utama yaitu manis, pahit, asam dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan modifikasi. Pemberian cita rasa pada olahan makanan dapat dilakukan dengan penambahan berbagai bumbu dan bahan kimia yang diizinkan, seperti garam dapur, gula, dan bahan lainnya.5
E.
Pembahasan
Modifikasi resep adalah merubah formula asli berdasarkan kualitas yang diharapkan secara terbatas untuk mencapai kualitas yang diharapkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi dan daya terima agar dapat mengurangi rasa bosan/ jenuh pada klien.1 Modifikasi resep dapat dilakukan dengan cara mengubah resep dasar menjadi resep baru untuk meningkatkan penampilan pada bentuk, rasa, warna, aroma, dan suhu makanan namun, tetap memperhatikan bahan utama dari resep awal dan mengandung nilai gizi sesuai standar. Adanya modifikasi resep agar dapat diterima dengan baik oleh pasien.7
Berdasarkan hasil pengamatan siklus menu yang berlaku
di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal teknik pengolahan, bentuk, dan tekstur menu
telur masih belum bervariasi. Teknik pengolahan telur umumnya menggunakan
metode digoreng atau direbus dengan bumbu tertentu. Bentuk dan tekstur olahan
telur umumnya masih berbentuk bulat telur. Bentuk dan tekstur yang bervariasi
juga dapat meningkatkan selera makan pasien. Teknik pengolahan yang beragam
dapat menghasilkan menu yang bervariasi. Variasi menu dapat menghilangkan rasa
bosan pada responden.8 Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi
resep telur agar lebih bervariasi dan dapat meningkatkan selera makan dan daya
terima pasien. Pada modifikasi resep telur sakura, teknik pengolahan yang
digunakan adalah pengukusan dan penggorengan. Bentuk yang dihasilkan dalam
modifikasi resep ini adalah bunga dan bisa berganti sesuai dengan cetakan yang
digunakan. Penambahan bahan air pada olahan, dapat merubah tekstur telur sakura
menjadi lebih lembut.
Berdasarkan hal diatas, maka dilakukan modifikasi
resep lauk hewani yaitu membuat Telur Sakura. Modifikasi resep lauk hewani
Telur Sakura membutuhkan waktu yang singkat dan terbuat dari campuran aneka
sayuran yang dikukus dan di goreng. Campuran aneka sayuran yang digunakan
antara lain adalah jamur kuping, wortel, serta daun bawang yang membuat modifikasi
resep telur sakura memiliki serat yang tinggi. Selain itu, aneka sayuran yang
digunakan membuat modifikasi telur sakura menjadi lebih bertekstur renyah yang
dapat meningkatkan nafsu makan pasien.9 Adanya tambahan saus tiram
ketika penyajian membuat cita rasa telur sakura semakin meningkat. Bentuk
penyajian telur sakura juga dilakukan dengan bentuk yang beragam dengan berat
yang sama. Modifikasi telur sakura dapat meningkatkan variasi menu sehingga
pasien tidak merasa bosan dan dapat menghilangkan persepsi pasien terhadap
bahan lauk hewani yang disajikan seperti olahan telur yang kurang bervariasi
dalam hal bentuk, tekstur, aroma serta cita rasa.
Berdasarkan uji organoleptik terhadap warna modifikasi
lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis menyukai
warna makanan, 8 dari 10 panelis menyukai warna makanan, dan 1 dari 10 panelis
kurang menyukai warna makanan. Warna merupakan kesan pertama yang muncul dan
dinilai oleh panelis karena menggunakan indera penglihatan. Warna yang menarik
akan memberikan pengaruh selera yang baik untuk panelis atau konsumen untuk
mengonsumsi produk. Warna yang dihasilkan pada pengolahan telur sakura adalah
coklat keemasan. Selain warna coklat, pada produk telur sakura juga terdapat
warna oranye, coklat kehitaman, dan hijau. Warna ini didapatkan dari komposisi
yang terkandung didalamnya yaitu wortel, jamur kuping, dan daun bawang. Warna
coklat keemasan pada telur sakura disebabkan karena adanya proses penggorengan
sehingga terjadi reaksi Maillard yang menghasilkan warna coklat. Reaksi
Maillard adalah reaksi yang terjadi antara gula pereduksi dengan asam amino.5
Akumulasi pigmen coklat adalah indikasi yang menunjukkan terjadinya reaksi
Maillard pada makanan yang mengandung protein dan karbohidrat.10
Penampilan makanan yang disajikan dapat mempengaruhi indera penglihatan.
Kombinasi warna yang beragam dapat menarik perhatian dan meningkatkan selera
makan konsumen.11
Berdasarkan uji organoleptik terhadap aroma modifikasi
lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 1 dari 10 panelis sangat
menyukai aroma makanan, 8 dari 10 panelis menyukai aroma makanan, dan 1 dari 10
panelis kurang menyukai aroma makanan. Aroma adalah salah satu parameter dalam
pengujian organoleptik yang menggunakan indera penciuman.6 Aroma
merupakan reaksi makanan yang akan mempengaruhi konsumen sebelum konsumen
menikmati makanan. Penilaian terhadap aroma makanan bersifat subjektif pada
masing-masing panelis. Pada produk telur sakura terdapat penilaian yang
menyatakan bahwa produk masih beraroma amis. Hal ini dapat diatasi dengan
penambahan bumbu atau penambahan minyak wijen untuk menutupi aroma amis dari
telur.
Berdasarkan uji organoleptik terhadap tekstur
modifikasi lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa bahwa 1 dari 10
panelis sangat menyukai tekstur makanan dan 9 dari 10 panelis menyukai tekstur
makanan. Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau
sentuhan. Tekstur dianggap penting seperti bau, rasa dan aroma karena dapat
mempengaruhi citra makanan.5 Tekstur makanan seperti lunak atau lembek, keras
atau kering, kenyal, krispi, berserat, dan halus memengaruhi sensitivitas
indera pengecapan dan memengaruhi kecepatan mengunyah yang akhirnya akan
berdampak pada banyaknya makanan yang dikonsumsi.4 Tekstur yang
terdapat pada modifikasi menu telur sakura merupakan tekstur yang lembut.
Tekstur sayuran yang terdapat pada telur sakura memberikan kesan renyah yang
tidak terlalu lunak sehingga cocok dengan perpaduan telur yang lembut. Saus
yang disajikan juga memiliki tekstur yang cukup kental sehingga cocok saat
disajikan bila dibandingkan dengan saus dengan tekstur yang cair.
Berdasarkan uji organoleptik terhadap rasa modifikasi
lauk hewani yaitu telur sakura menunjukkan bahwa 7 dari 10 panelis menyukai rasa
makanan dan 3 dari 10 panelis kurang menyukai rasa makanan. Rasa merupakan
salah satu faktor yang dapat menentukan suatu produk dapat diterima atau tidak
oleh konsumen. Dalam penginderaan cecapan manusia dibagi empat cecapan utama
yaitu manis, pahit, asam dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan
modifikasi. Pemberian cita rasa pada olahan makanan dapat dilakukan dengan
penambahan berbagai bumbu dan bahan kimia yang diizinkan, seperti garam dapur,
gula, dan bahan lainnya.5 Rasa yang terdapat dari telur sakura ini
adalah gurih. Beberapa panelis menyampaikan bahwa telur sakura memiliki rasa
yang enak namun memiliki rasa saus tiram yang cukup asin. Hal ini dapat terjadi
karena ketika proses pembuatan saus, air yang ditambahkan untuk mengencerkan saus
kurang banyak sehingga rasa saus yang dihasilkan cukup asin.
Hasil daya terima terhadap hidangan modifikasi secara keseluruhan menunjukkan sebagian besar panelis menyatakan suka pada penilaian terhadap produk telur sakura. Hal ini disebabkan karena adanya bentuk, warna, dan tekstur yang baik. Bentuk dan warna yang menarik dapat membantu dalam meningkatkan nafsu makan pasien. Selain itu, nilai gizi yang terkandung dari telur sakura lebih tinggi dari nilai gizi telur curry yaitu dari energi, karbohidrat, dan serat. Biaya yang dibutuhkan dalam membuat satu porsi telur sakura adalah Rp3.185. Biaya ini tentunya lebih tinggi dibandingkan apabila membuat satu porsi telur curry karena membutuhkan bahan makanan yang lebih banyak. Hal yang masih perlu diperbaiki adalah rasa dari saus tiram yang masih terlalu asin. Sehingga untuk produksi telur sakura berikutnya, disarankan untuk tidak menumis bumbu menggunakan mentega karena akan membuat rasa saus menjadi lebih asin.
F.
Penutup
1. 1. Kesimpulan
Pengembangan resep lauk
hewani pada menu telur curry dengan memodifikasi menu menjadi telur
sakura. Telur sakura diproduksi menggunakan metode dikukus dan digoreng. Telur
sakura memiliki bentuk yang menarik dan tekstur yang renyah. Nilai gizi yang
terkandung dalam hidangan modifikasi ini adalah energi 188,58 kkal, karbohidrat
17,19 gr, protein 5,21 gr, lemak 10,77 gr, dan serat 0,46 gr. Berdasarkan data
yang dikumpulkan mengenai uji organoleptik menunjukkan bahwa sebagian besar
panelis suka terhadap aspek rasa, aroma, tekstur, dan warna.
2. 2. Saran
Hasil modifikasi menu
telur sakura memerlukan evaluasi dan pengembangan resep lebih lanjut sebelum
diterapkan terutama dalam hal rasa. Selain itu dapat membakukan resep masakan
dalam standar resep agar hasil makanan memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Dwipangesti S,
Chandradewi AA, Suranadi L, Sofiyatin R. PENGARUH MODIFIKASI RESEP TEMPE
TERHADAP DAYA TERIMA. Jurnal Gizi Prima (Prime Nutrition Journal). 2021 Nov
28;6(2):125-31.
2.
Emiliana E, Dhesa DB,
Mayangsari R. Analisis Pelaksanaan Pelayanan Gizi Rawat Inap di Rumah Sakit
Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmiah Karya Kesehatan. 2021
Nov 25;2(01):16-24.
3.
Direktorat Jenderal
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Dan Anak. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit
(PGRS). Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. The Dictionary of Genomics,
Transcriptomics and Proteomics. 2013
4.
Tanuwijaya LK,
Sembiring LG, Dini CY, Arfiani EP, Wani YA. Sisa makanan pasien rawat inap:
analisis kualitatif. Indonesian Journal of Human Nutrition. 2018 Jun 30;5(1):51-61.
5.
Lamusu D. Uji
organoleptik jalangkote ubi jalar ungu (ipomoea batatas l) sebagai upaya
diversifikasi pangan. Jurnal Pengolahan Pangan. 2018 Jun 30;3(1):9-15.
6.
Negara JK, et al.
Aspek Mikrobiologis serta Sensori (Rasa, Warna, Tekstur, Aroma) pada Dua Bentuk
Penyajian Keju yang Berbeda. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil
Peternakan. 2016; 4 (2)
7.
Mutia CS, Rachmawati
R. Pengaruh modifikasi menu makanan lunak terhadap tingkat kepuasan pasien dan
sisa makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh. Jurnal SAGO Gizi
dan Kesehatan. 2020 Sep 18;1(2):152-8.
8.
Tanuwijaya LK,
Novitasari TD, Arfiani EP, Wani YA, Wulandari DE. Kepuasan pasien terhadap
variasi bahan makanan di rumah sakit. Jurnal Gizi. 2019;8(1).
9.
Thania E, Magdalena
K, Ningsih RW, Nuraelah A, Rosmiyati A. Daya Terima Pasien Terhadap Menu
Makanan Biasa Tanpa Diet Khusus di RS PMI Bogor. Jurnal Gizi dan Kuliner
(Journal of Nutrition and Culinary).;2(1):1-8.
10. Agustini S. Pengaruh Modifikasi Proses Terhadap
Kualitas Sensoris Kue Delapan Jam. Jurnal Dinamika Penelitian Industri. 2015;
26 (2)
11. Triastuti S, Rahmawati AY, Mintarsih SN.
Pengaruh Variasi Penyajian Makanan Terhadap Persepsi Penampilan dan Daya Terima
Makanan pada Pasien Anak di RSUD Banyumas. Jurnal Riset Gizi. 2017; 5(2)

0 komentar:
Posting Komentar