Jumat, 23 Agustus 2024

LAPORAN PENGEMBANGAN DAN MODIFIKASI RESEP BOLA UBI oleh Devina Shafrah Hadi dan Intan Khoirina dengan Pembimbing Siti fatonah, S.Gz., M.Gz., RD.

 


 


DSibawah ini adalah pengembangan dan modifikasi yang dilakukan dalam kegiatan praktik belajar lapangan mahasiswi UNDIP prodi Ilmu Gizi

A.    Pendahuluan

Penyelenggaraan makanan di Rumah Sakit menyediakan makanan yang menyesuaikan keadaan gizi pasien untuk menunjang penyembuhan. Meskipun penyelenggaraan makanan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien, tetapi penerimaan makanan pada pasien harus diperhatikan karena setiap pasien memiliki tingkat penerimaan makanan yang berbeda. Berdasarkan Kepmenkes nomor 129/Menkes/SK/II/2008 mengenai Pelayanan Minimal Rumah Sakit, bahwa tiga indikator gizi yang harus dipenuhi, yaitu (1)Ketepatan waktu makanan yaitu ≥ 90%; (2)Sisa makanan pasien ≤ 20%; (3)Tidak ada kesalahan pemberian diet sebanyak 100%.1

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi daya terima makan, faktor internal dan eksternal. Faktor internal di pengaruhi nafsu makan dan faktor eksternal di pengaruhi penampilan, cita rasa, variasi, penyajian, kebersihan dan ketepatan waktu makan. Berdasarkan pertimbangan bahwa pasien harus menghabiskan makanan sesuai kebutuhannya agar tercapai tingkat kesembuhan yang optimal serta untuk meningkatkan kepuasan pasien terhadap makanan yang disajikan, maka diperlukan modifikasi resep dalam rangka meningkatkan kualitas menu dalam indikator rasa, wakna, tekstur, serta nilai gizi.2,3

Menu yang akan dikembangkan dan dimodifikasi berupa hidangan snack. Snack merupakan istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Snack biasanya dikonsumsi diantara waktu makan utama. Makanan yang dimaksud adalah makanan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang sementara waktu, memberi sedikit pasokan energi dan zat gizi ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya.4 Kami memodifikasi snack bubur ketela menjadi bola ubi gula aren. Bahan dasar yang digunakan pada modifikasi snack ini adalah ubi jalar kuning. Snack yang dikembangkan merupakan produk yang di modifikasi dari segi bahan, bentuk, rasa, warna, dan teknik pengolahan.

B.     Resep Masakan Lama

Menu Bubur Ketela

  1. Standar Resep Menu Bubur Ketela

a.      Deskripsi Produk

Bubur ketela adalah jenis makanan yang terbuat dari ketela yang dimasak dengan air dan santan. Bahan-bahan lain seperti gula, garam, dan daun pandan juga ditambahkan untuk memberikan rasa yang lezat. Bubur ketela biasanya disajikan sebagai hidangan penutup, camilan, atau sarapan di Indonesia.

b.      Bahan (100 Porsi)

1.)    4 kg ubi

2.)    15 liter air

3.)    1 kg tepung tapioka (dicairkan dulu dengan 1 liter air)

4.)    2 kg gula merah

5.)    600 gr gula pasir

6.)    Garam secukupnya

7.)    30 lembar daun pandan

c.       Bahan untuk santan (100 Porsi)

1.)    3 liter santan kental (dari kelapa parut 1,5 kg)

2.)    Garam secukupnya

3.)    30 lembar daun pandan

4.)    200 gr tepung maizena

d.      Prosedur Pembuatan

1.)    Potong ubi kotak-kotak kecil lalu rebus dengan air, garam, dan daun pandan.

2.)    Setelah mendidih, masukkan gula jawa, tunggu sampai ubinya empuk (jangan sampai hancur ubinya).

3.)    Kemudian masukkan tepung tapioka yang sudah dicairkan sambil diaduk-aduk.

4.)    Tunggu sampai mendidih lalu matikan api.

5.)    Untuk membuat santan, campur santan dan garam secukupnya lalu masak dengan api kecil sambil diaduk terus supaya santan tidak pecah.

6.)    Sajikan bubur telo dengan santan.

e.       Foto Makanan

  1. Analisis Nilai Gizi

Tabel 1. Kandungan Gizi Bubur Ketela untuk 1 Porsi

Bahan Makanan

Jumlah

(gr)

Energi

(kkal)

Protein

(gr)

Lemak

(gr)

Karbohidrat

(gr)

Ubi jalar kuning

40

40,8

0,8

0

9,7

Tepung tapioka

10

38,1

0

0

9,1

Gula merah

20

75,2

0

0

19,5

Gula pasir

6

23,2

0

0

6

Daun pandan

2

2,8

0,2

0

0,5

Santan kental

30

106,2

1

10,1

4,6

Tepung maizena

2

7,6

0

0

1,8

Air

150 ml

0

0

0

0

Total

293,9

2

10,1

51,2

 

  1. Analisis Biaya

Tabel 2. Analisis Biaya Bubur Ketela untuk 1 Porsi

Bahan

Berat (g)

kg

Harga satuan

Harga

Ubi

40

0,04

Rp10.950

Rp438

Tapioka

10

0,01

Rp17.000

Rp170

Gula pasir

6

0,006

Rp20.800

Rp125

Kelapa parut

15

0,015

Rp6.500

Rp98

Tepung maizena

2

0,002

Rp57.333

Rp115

Gula merah

20

0,02

Rp24.000

Rp480

air

150

0,15

Rp933

Rp140

Harga/porsi

Rp1.565

 

C.    Modifikasi Resep

  1. Standar Resep Menu Bola Ubi

a.      Deskripsi Produk

Bola ubi adalah jajanan yang terbuat dari campuran ubi kukus, gula, dan tepung tapioka yang diaduk, dibentuk menjadi bola dan digoreng. Tekstur bola-bola ubi ini garing di luar, tapi lembut, kenyal dan manis di dalam. Bola ubi ini berasal dari Bandung dan telah menyebar dan menjadi populer di seluruh Indonesia. Menurut KBBI, kata ‘Kopong’ memiliki arti tidak berisi atau kosong. Maka dari itu, Bola Ubi Kopong biasanya tidak memiliki isi apapun. Namun, karena berkembangnya zaman dan ilmu kuliner, bola-bola ubi banyak yang disajikan dengan aneka isian seperti gula merah, cokelat dan keju.

b.      Bahan (10 Porsi)

1.)    800 gr ubi kuning, kukus, haluskan

2.)    80 gr kelapa parut

3.)    50 gr gula pasir

4.)    80 gr tepung tapioka

5.)    50 ml gula jawa cair

6.)    Minyak goreng secukupnya

c.       Cara Pembuatan

1.)    Campur ubi halus dengan kelapa, gula pasir, dan tepung tapioka.

2.)    Bentuk menjadi 40 buah bola-bola.

3.)    Panaskan minyak dengan api sedang, goreng sampai berwarna kecoklatan.

4.)    Siram gula jawa cair diatas bola ubi yang sudah digoreng.

d.      Foto Makanan

  1. Analisis Nilai Gizi

Tabel 3. Nilai Gizi Bola Ubi Untuk 1 Porsi

Bahan Makanan

Jumlah

(gr)

Energi

(kkal)

Protein

(gr)

Lemak

(gr)

Karbohidrat

(gr)

Ubi jalar kuning

80

102,1

2,1

0,1

24,3

Kelapa parut

8

17,7

0,2

1,7

0,8

Gula merah

5

37,6

0

0

9,7

Tepung tapioka

8

38,1

0

0

9,1

Minyak kelapa sawit

14,4

155,2

0

18

0

Gula pasir

4,8

18,6

0

0

4,8

Total

287,5

2

16

37

  1. Analisis Biaya

Tabel 4. Analisis Biaya Bola Ubi untuk 1 Porsi

Bahan

Berat (g)

kg

Harga satuan

Harga

Ubi

80

0,08

Rp10.950

Rp876

Tapioka

8

0,008

Rp17.000

Rp136

Gula

4,8

0,0048

Rp20.800

Rp100

Kelapa parut

8

0,008

Rp6.500

Rp52

Minyak

14,4

0,0144

Rp30.700

Rp442

Gula merah

5

0,005

Rp24.000

Rp120

Harga/porsi

Rp1.726

 

D.    Evaluasi Modifikasi Resep

      Setelah dilakukan pengolahan menu baru bola ubi, dilakukan pengujian organoleptik dengan 10 panelis. Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 5. Hasil Uji Organoleptik Bola Ubi

No

Panelis

Warna

Aroma

Rasa

Tekstur

1

NI

3

3

4

3

2

A

3

3

3

3

3

H

3

4

4

4

4

M

3

3

3

3

5

AR

4

4

3

4

6

AP

4

4

4

4

7

AN

3

3

3

3

8

N

4

4

4

4

9

TM

4

3

3

4

10

SF

4

4

4

4

Rata-rata

3,5

3,5

3,5

3,6

 

  1. Warna

            Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa rata-rata penilaian organoleptik untuk warna bola ubi sebesar 3,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 5 dari 10 panelis sangat menyukai warna bola ubi. Warna bola ubi yaitu kuning keemasan sehingga menambah selera panelis. Warna merupakan visualisasi suatu produk yang langsung terlihat lebih dahulu dibandingkan dengan variabel lainnya. Warna secara langsung akan mempengaruhi persepsi panelis. Secara visual faktor warna akan tampil lebih dahulu dan sering kali menentukan nilai suatu produk.5

  1. Aroma

            Berdasarkan data pada tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata penilaian aroma bola ubi sebesar 3,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 5 dari 10 panelis sangat menyukai rasa bola ubi. Aroma merupakan salah satu parameter dalam pengujian sifat sensori (organoleptik) dengan menggunakan indera penciuman. Aroma dapat diterima apabila bahan yang dihasilkan mempunyai aroma spesifik. Selanjutnya aroma merupakan sensasi subyektif yang dihasilkan dengan penciuman (pembauan). Konstituen yang dapat menimbulkan aroma adalah senyawa volatile (yang dapat diisolasi dari bahan pangan biasanya kurang dari 100 ppm).6 Aroma bola ubi berasal dari komponen ubi kuning dan kelapa parut yang ada dalam adonan sehingga dapat meningkatkan citarasa bola ubi.

  1. Rasa

            Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa rata-rata penilaian organoleptik untuk rasa bola ubi sebesar 3,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 5 dari 10 panelis sangat menyukai rasa bola ubi. Rasa manis dan gurih bola ubi didapatkan dari bahan ubi kuning dan gula yang manis, serta rasa gurih dari parutan kelapa. Rasa merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan suatu produk dapat diterima atau tidak oleh konsumen. Rasa merupakan sesuatu yang diterima oleh lidah. Dalam penginderaan cecapan manusia dibagi empat cecapan utama yaitu manis, pahit, asam, dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan modifikasi.6

  1. Tekstur

            Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa rata-rata penilaian organoleptik untuk tekstur bola ubi sebesar 3,6. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 6 dari 10 panelis sangat menyukai tekstur bola ubi. Tekstur lembut bola ubi didapatkan dari bahan ubi kuning dan tepung tapioka dengan perbandingan yang pas. Tekstur adalah penginderaan yang dihubungkan dengan rabaan atau sentuhan. Kadang-kadang tekstur juga dianggap sama penting dengan bau, rasa dan aroma karena mempengaruhi citra makanan. Tekstur paling penting pada makanan lunak dan renyah. Ciri yang paling sering adalah kekerasan, kekohesifan, dan kandungan air.6


 

E.     Pembahasan

Modifikasi menu pada bubur ketela dilakukan dengan mengubah menu menjadi bola ubi siram gula jawa. Menu ini dibuat dengan mencampurkan bahan utama ubi kuning dengan tepung tapioka, kelapa parut, dan gula pasir. Gula jawa digunakan sebagai siraman di akhir agar menambah cita rasa dan penampilan.

Berdasarkan hasil penilaian organoleptik keseluruhan oleh 10 panelis, dapat diketahui bahwa modifikasi resep berupa snack bola ubi dapat diterima dengan baik. Rata-rata skor organoleptik dari segi warna, rasa, dan aroma adalah 3,5 sedangkan untuk tekstur 3,6 dari skala 4.

Terdapat beberapa komentar untuk bola ubi, salah satunya yaitu rasanya yang terlalu manis. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya gula di dalam adonan dan penyiraman bola ubi dengan gula jawa. Selain itu, rasa manis juga bisa dipengaruhi oleh ubi yang digunakan karena setiap ubi memiliki tingkat kemanisan yang berbeda. Kesukaan panelis terhadap rasa manis juga dapat mempengaruhi penilaian. Permasalahan mengenai rasa yang terlalu manis seharusnya dapat diselesaikan dengan memisahkan gula jawa cair. Namun, pada bola ubi yang disajikan demikian mendapat komentar bahwa penyajian terlalu merepotkan. Sehingga lebih baik bola ubi tetap disiram dengan sedikit gula jawa dengan adanya sedikit siraman di piring.

Berdasarkan perhitungan zat gizi, snack bola ubi memiliki nilai gizi yang hampir sama dengan snack bubur ketela. Total energi 1 porsi snack bola ubi adalah 287,5 kkal sedangkan total energi bubur ketela adalah 293,9 kkal Bola ubi menggunakan gula yang lebih sedikit dibandingkan bubur ketela sehingga total karbohidrat bola ubi lebih rendah. Berdasarkan analisis biaya per porsi, biaya bola ubi (Rp1.726) lebih mahal Rp161 dibandingkan biaya bubur ketela (1.565). Hal tersebut dikarenakan bola ubi menggunakan komposisi ubi kuning yang lebih banyak dibandingkan bubur ketela.

Hasil pengembangan dan modifikasi snack rumah sakit berupa bola ubi ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bubur ketela. Dalam hal penampilan, bola ubi terlihat lebih sederhana untuk dikonsumsi sehingga memiliki risiko food waste yang rendah, sedangkan pada bubur ketela terdapat kuah santan yang berisiko menjadi sisa makanan. Dalam hal tekstur, bola ubi memiliki tekstur renyah di luar dan lembut di dalam karena melewati proses penggorengan, sedangkan bubur ketela hanya bertekstur lembut. Dalam hal komposisi, bola ubi memiliki komposisi bahan yang lebih sederhana dibandingkan bubur ketela.

Saat pengolahan bola ubi, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Antara lain komposisi per bahan. Bahan harus sesuai proporsi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Selain itu, pengolahan bola ubi juga memakan waktu yang lama terutama saat pengukusan. Sehingga disarankan memanaskan air dahulu untuk mengukus saat sedang membersihkan ubi. Penggorengan bola ubi juga cukup sulit dan lama karena harus menggunakan suhu minyak yang sesuai dan menggunakan api kecil.

F.     Penutup

  1. Kesimpulan

            Modifikasi resep snack yaitu bubur ketela menjadi bola ubi memperoleh hasil uji organoleptik bisa diterima oleh panelis. Skor daya terima rata-rata terkait organoleptik bola ubi yaitu warna, rasa, dan aroma sebesar 3,5 sedangkan untuk tekstur 3,6 dari skala 4.

  1. Saran

            Bagi praktikan lainnya yang tertarik dengan konsep sejenis, dapat dilakukan lebih lanjut mengenai pengembangan resep dan mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi daya terima dan kesukaan pasien. Bagi pemegang kebijakan dalam penyelenggaraan makanan rumah sakit diharapkan untuk selalu melakukan modifikasi menu makanan secara berkala sesuai dengan daya terima pasien dengan mengutamakan mutu makanan.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Bektiningrum, A. Kajian Daya Terima dan Cita Rasa Menu Diet untuk Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus di Bangsal Kelas III Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Yogyakarta: Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. 2020.

2.      Octaviani MY, Dhini, Munifa. Gambaran Daya Terima Terhadap Modifikasi Snack Puding Ubi Ungu Pisang Diabetes Melitus di Instalasi Gizi X. Jurnal Surya Medika. 2022;8(3):204-209.

3.      Mutia CS, Rachmawati. Pengaruh Modifikasi Menu Makanan Lunak Terhadap Tingkat Kepuasan Pasien dan Sisa Makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh. Jurnal SAGO: Gizi dan Kesehatan. 2020;1(2):152-158.

4.      Nuraeni A, Fauziah T. Ubi Jalar Sebagai Salah Satu Alternatif Pengembangan Produk Snack. Jurnal Sains Terapan. 2016;6(1):94-107.

5.      Lestari, S., & Susilawati, P. N. Uji organoleptik mi basah berbahan dasar tepung talas beneng (Xantoshoma undipes) untuk meningkatkan nilai tambah bahan pangan lokal Banten. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. 2015;1(4):941-946.

6.      Lamusu, D. Uji organoleptik jalangkote ubi jalar ungu (ipomoea batatas l) sebagai upaya diversifikasi pangan. Jurnal Pengolahan Pangan. 2018; 3(1):9-15.

0 komentar:

Posting Komentar