Kamis, 05 Oktober 2017

Survey Konsumsi Makanan

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Survei diet atau penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Pada awal tahun empat puluhan survei konsumsi, terutama recall 24 jam banyak yang digunakan dalam penelitian kesehatan dan gizi. Pelaksanaan kegiatan survei konsumsi makanan ini merupakan suatu keahlian atau kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang ahli gizi, karena dari pelaksanaan survei konsumsi makanan inilah akan didapatkan data untuk membuat kebijakan oleh pemerintah dan keputusan oleh seorang ahli gizi.
Di Amerika Serikat survei konsumsi makanan digunakan sebagai salah satu cara dalam penentuan status gizi (willet,1990). Indonesia telah melaksanakan survei konsumsi pangan ini dalam skala besar, seperti Survei Diet Total (SDT) yang dilaksanakan pada tahun 2014 yang lalu, dan melibatkan 33 propinsi, beberapa ratus kecamatan dari 6.793 kecamatan, beberapa ribu kluster dari 79.075 kelurahan/desa, serta ratusan ribu individu yang ada di seluruh Indonesia. Metode yang digunakan saat itu adalah recall (kualitatif) yang digabung dengan metode penimbangan / weighing (kuantitatif) untuk beberapa bahan/makanan yang baru dikenal atau muncul disuatu daerah.
Metode pendekatan yang umum digunakan dalam pengukuran survei konsumsi makanan ini dikenal dengan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan gabungan. Namun, harus diakui bahwa masing-masing pendekatan yang ada tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan. Oleh sebab itu, petugas pelaksana harus mampu menggunakan pendekatan terpilih yang mempunyai bias sekecil mungkin agar hasil yang didapatkan mendekati hasil ukur yang sebenarnya.
Banyak pengalaman membuktikan bahwa dalam melakukan penilaian survei konsumsi makanan (survei dietetik) banyak terjadi bias tentang hasil yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain; ketidaksesuaian dalam menggunakan alat ukur, waktu pengumpulan data yang tidak tepat, instrumen tidak sesuai dengan tujuan, ketelitian alat timbang makanan, kemampuan petugas pengumpulan data, day ingat responden, daftar komposisi makanan yang digunakan tidak sesuai dengan makanan yang dikonsumsi responden dan interpretasi hasil yang kurang tepat.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik tentang cara-cara melakukan survei konsumsi makanan, baik untuk individu, kelompok maupun rumah tangga. Walaupun data konsumsi makanan sering digunakan sebagai salah satu metode pe­nentuan status gizi, sebenarnya survei konsumsi tidak dapat menentukan status gizi seseorang atau masyarakat secara langsung. Hasil survei hanya dapat digunakan sebagai bukti awal akan kemungkinan terjadinya kekurangan gizi pada seseorang.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian survey konsumsi makanan?
2.      Apakah tujuan survey konsumsi makanan ?
3.      Bagaimanakah metode survey konsumsi makanan berdasarkan data yang diperoleh ?
4.      Bagaimanakah metode pengukuran konsumsi makanan bersadarkan sasaran pengamatan ?
5.      Bagaimanakah kesalahan dalam pengukuran konsumsi makanan?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian survey konsumsi makanan.
2.      Untuk mengetahui tujuan survey konsumsi makanan.
3.      Untuk mengetahui metode pengukuran konsumsi makanan berdasarkan data yang diperoleh.
4.      Untuk mengetahui metode pengukuran konsumsi makanan bersadarkan sasaran pengamatan.
5.      Untuk mengetahui kesalahan dalam pengukuran konsumsi makanan.
  1. Batasan Masalah
Makalah kami terbatas untuk membahas tentang survey konsumsi makanan.




















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Survey Konsumsi Makanan.
Survey konsumsi makanan adalah salah satu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Survey konsumsi makanan ditujukan untuk mengetahui kebiasaan makan, gambaran tingkat kecukupan bahan makanan, dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga, dan perorangan, serta faktor- faktor yang mempengaruhinya.
Metode atau pendekatan yang umum digunakan dalam pengukuran Survey Konsumsi Makanan dikenal dengan pendekatan kuantitatif, kualitataif dan gabungan. Namun, hatus diakui bahwa masing-masing pendekatan tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan. Sampai saat ini dikenal dua bias, yaitu bias seleksi dan bias informasi. Diketahui bahwa ada beberapa hal yang dapat menimnulkan bias tersebut, baik dari pihak peneliti maupun akibat dari alat yang digunakan.
Satu hal lain yang menjadikan hasil ukur bias adalah kemampuan pewawancara untuk memperkirakan ukuran makanan atau porsi makanan yang disampaikan oleh individu yang ditanya secara benar dan/ atau mendekati ukuran sebenarnya. Cara yang digunakan untuk menghindari salah ukur ini adalah dengan menggunakan alat bantu media. Media yang digunakan bisa food model dan buku foto bahan makanan. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menghindari bias dalam melaksanakan pengukuran konsumsi makanan adalah dengan melakukan penyamaan persepsi antara peneliti dan pengumpul data.
Penilaian terhadap kemampuan pengumpul data dalam mengapresiasi semua data yang harus dikumpulkan dilapangan, dilakukan dengan melakukan uji uji akurasi dan presisi pengumpul data. Penggunaan alat bantu yang mudah dibawa tetapi mempunyai akurasi yang tinggi, seperti timbangan makanan yang memiliki akurasi yang tinggi dan instrumen pengumpul data/ kuesioner, dapat menyerap informasi yang dibutuhkan dalam pengukuran konsumsi makanan.
Estimasi merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk menghindari terjadinya bias tersebut. Upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan estimasi adalah dengan melakukan penyamaan antara recall dengan keadaan sebenarnya. Petugas lapangan/ peneliti harus mampu memperkirakan makanan yang dikonsumsi oleh responden sedekat mungkin dengan kenyataannya dan petugas harus mampu menaksir makanan yang sudah jadi kedalam bentuk bahan makanan mentah, kemudian melihat berapa besar penyimpangan yang terjadi.
B.     Tujuan Survey Konsumsi Makanan.
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga dan perorangan serta faktor-faktor yang berpengaruh ter­hadap konsumsi makanan tersebut.
2.      Tujuan Khusus
a.    Menentukan tingkat kecukupan konsumsi pangan nasional dan kelompok masyarakat..
b.   Menentukan status kesehatan dan gizi keluarga dan individu.
c.    Menentukan pedoman kecukupan makanan dan program pengadaan pangan.
d.   Sebagai dasar perencanaan dan program pengembangan gizi.
e.    Sebagai sarana pendidikan gizi masyarakat, khususnya golongan yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi.
f.     Menentukan perundang-undangan yang berkenaan dengan makanan, kesehatan dan gizi masyarakat.



C.    Metode Pengukuran Konsumsi Makanan Berdasarkan Jenis Data Yang Diperoleh
Berdasarkan jenis data yang diperoleh, maka pengukuran konsumsi makanan menghasilkan dua jenis data konsumsi, yaitu bersifat kualitatif dan kuantitatif.
1.    Metode Kualitatif
Metode yang bersifat kualitatif, biasanya untuk mengetahui frekuensi makanan frekuensi konsumsi menurut jenis makanan dan menggali informasi tentang kebiasaan makan (food habits) serta cara-cara memperoleh bahan makanan tersebut.
Metode-metode pengukuran konsumsi makanan bersifat kualitatif  antara lain :
a.       Metode frequensi makanan (food frequency)
b.      Metode dietary history
c.       Metode telepon
d.      Metode pendaftaran makanan (food list)
2.    Metode Kuantitatif
Metode secara kuantitatif dimaksudkan untuk mngetahui jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung konsumsi zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisis Bahan Makanana (DKBM) atau daftar lain yang diperlukan seperti Daftar Ukuran Rumah Tangga (URT), Daftar Konversi Mentah-Masak (DKMM) dan daftar penyerapan minyak.
Metode-metode untuk pengukuran konsumsi secara kuantitatif antara lain :
a.          Metode recall 24 jam
b.         Perkiraan makanan (estimated food records)
c.          Penimbangan makanan (Food weighing)
d.         Metode food account
e.          Metode inventaris (inventory method)
f.          Pencatatan (household food records)

3.    Metode gabungan (kualitatif dan kuantitatif)
Beberapa metode pengukuran bahkan dapat menghasilkan data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif  yaitu :
a.          Metode recall 24 jam
b.         Metode riwayat makan (dietary history)
D.    Metode Pengukuran Konsumsi Makanan Berdasarkan Sasaran Pengamatan atau Pengguna.
1.    Tingkat Nasional
Untuk menghitung tingkat konsumsi masyarakat dan perkiraan kecukupan persediaan makanan secara nasional pada suatu wilayah atau negara dilakukan dengan cara Food Balance Sheet (FBS).
Langkah-langkah perhitungan FBS :
a.         Menghitung kapasitas produksi makanan dalam satu tahun (berasal dari persediaan/cadangan, produksi dan impor bahan makanan dari negara atau wilayah lain).
b.         Dikurangi dengan pengeluaran untuk bibit, ekspor, kerusakan pascapanen dan transportasi, diberikan untuk makanan ternak dan untuk cadangan.
c.         Jumlah makanan yang ada tersebut dibagi dengan jumlah penduduk
d.        Diketahui ketersediaan makanan per kapita pertahun secara nasional
Data food balance sheet tidak dapat memberikan informasi tentang distribusi dari makanan yang tersedia tersebut untuk berbagai daerah, apalagi gambaran distribusi ditingkat rumah tangga atau perorangan. Selain itu juga tidak menggambarkan perkiraan konsumsi pangan masyarakat berdasarkan status ekonomi, keadaan ekologi, keadaan musim dan sebagainya. Oleh karena itu FBS tidak boleh dipakai untuk menentukan status gizi masyarakat suatu negara atau wilayah.



Berdasarkan kegunaannya, data FBS dapat dipakai untuk :
a.         Menentukan kebijaksanaan di bidang pertanian seperti produksi bahan makanan dan distribusi
b.         Memperkirakan pola konsumsi masyarakat
c.          Mengetahui perubahan pola konsumsi masyarakat
2.    Tingkat Rumah Tangga
Konsumsi makanan rumah tangga adalah makanandan minuman yang tersedia untuk dikonsumsi oleh anggota keluarga atau institusi.
Metode pengukuran konsumsi makanan untuk keluarga atau rumah tangga adalah sebagai berikut :
a.    Metode Pencatatan (Food Account)
Metode pencatatan dilakukan dengan melibatkan secara aktif anggota keluarga, dengan mencatat setiap hari semua makanan yang dibeli, diterima dari orang lain ataupun dari hasil produksi sendiri setiap hari. Oleh sebab itu, syarat utama pelaksana food account ini harus dapat baca tulis dan pelaksananya adalah yang melakukan pengolahan makanan sehari-hari di rumah tangga.
Petuga diminta untuk mencatat jumlah makanan yang dikonsumsi dalam URT, termasuk harga eceran bahan makanan tersebut. Cara ini tidak memperhitungkan makanana cadangan yang ada dirumah tangga dan juga tidak memperhatikan makanana dan minuman yang dikonsumsi diuar rumah dan rusak, terbuang/tersisa atau diberikan pada binatang piaraan. Lamanya pencatatan umumnya tujuh hari (Gibson, 1990). Pencatatan dilakukan pada formulir tertentu yang telah disiapkan ( Gibson, 2005)
Langkah-langkah pencatatan (food account) :
1)   Salah seoarang anggota keluarga diminta untuk mencatat seluruh makanan yang masuk kerumah yang berasal dari berbagai sumber setiap hari dalam URT (ukuran rumah tangga) atau satuan ukuran volume atau berat.
2)   Jumlahkan masing-masing jenis bahan makanan tersebut dan konversikan kedalam ukuran berat setiap hari.
3)   Hitung rata-rata perkiraan penggunaan bahan makanan setiap hari.
Kelebihan metode pencatatan (food account) :
1)   Cepat dan relatif murah
2)   Dapat diketahui tingkat ketersediaan bahan makanan keluarga pada periode tertentu
3)   Dapat diketahui daya beli keluarga terhadap bahan makanan
4)   Dapat menjangkau responden lebih banyak
Kekurangan metode pencatatan (food account)
1)   Kurang teliti, karena anggota keluarga yang diminta mencatat tersebut tidak berlatar belakang pengumpul data yang profesional sehingga hasil ukurnya tidak dapat menggambarkan tingkat konsumsi rumah tangga.
2)   Sangat tergantung pada kejujuran responden untuk melaporkan/mencatat makanan dalam keluarga.
b.    Metode Pendaftaran Makanan (Food List Method)
Metode pendaftaran ini dilakukan dengan menanyakan dan mencatat seluruh bahan makanan yang digunakan keluarga selama periode survei dilakukan (biasanya 1-7 hari). Pencatatan dilakukan berdsarkan jumlah bahan makanan yang dibeli, harga dan nilai pembeliannya, termasuk makanan yang dimakan anggota keluarga dluar rumah. Jadi data yang diperoleh merupakan taksiran/perkiraan dari responnden. Metode ini tidak memperhitungkan bahan makanan yang terbuang, rusak atau diberikan pada binatang piaraan.
Jumlah bahan makanan diperkirakan dengan ukuran berat atau URT. Selain itu dapat dipergunakan alat bantu seperti food model atau contoh lainnya(gambar-gambar, contoh bahan makanan aslinyadan sebagainya) untuk membantu daya ingat responden.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara yang dibantu dengan formulir yang telah disiapkan yaitu, kosioner terstruktur yang memuat daftar bahan makanan utama yang digunakan keluarga. Karena data yang diperoleh merupakan taksiran atau perkiraan maka data yang diperoleh kurang teliti.
Langkah-langkah metode pendaftaran makanan :
1)   Catat semua jenis bahan makanan atau makanan yang masuk kerumah tangga dalam URT berdasarkan jawaban dari responden selama periode survei.
2)   Catat jumlah makanan yang dikonsumsi masing-masing anggota keluarga baik dirumah maupun diluar rumah.
3)   Jumlahkan semua bahan makanan yang diperoleh
4)   Catat umur dan jenis kelamin anggota keluarga yang ikut makan
5)   Hitung rata-rata perkiraan konsumsi bahan makanan sehari untuk keluarga
6)   Bila ingin mengetahui perkiraan konsumsi per kapita, dibagi dengan jumlah anggota keluarga
Kelebihan metode pendaftaran makanan :
1)   Biaya elatif murah karena hanya membutuhkan waktu yang singkat
Kekurangan Metode pendaftaran makanan :
1)   Hasil yang diperoleh kurang teliti karena, berdasarkan estimasi atau perkiraan.
2)   Sangat subjektif, tergantung kejujuran dari responden
3)   Sangat bergantung pada daya ingat responden
c.    Metode Inventaris (Inventory Method)
Metode inventaris juga sering disebut log book method. Prinsipnya dengan caranya menghitung/mengukur semua persediaan makanana di rumah tangga (berat dan jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survei. Semua makanan yang diterima, dibeli dan diproduksi sendiri dicatat dan dihitung/ditimbang setiap hari selama periode pengumpulan data (biasanya sekitar satu minggu). Semua makanan yang terbuang, tersisa dan busuk selama penyimpanan dan diberikan pada orang lain atau binatang peliharaan juga diperhitungkan. Pencatatan dapat dilakukan oleh petugas atau responden yang sudah mempu/telah dilatih dan tidak buta huruf (Gibson, 1990).
Langkah metode inventaris :
1)   Catat dan timbang/ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari pertama survei.
2)   Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang diperoleh (dibeli, dari kebun, pemberian orang lain, dan makanan diluar rumah) keluarga selama hari survei.
3)   Catat dan ukur semua bahan makanan yang diberikan kepada orang lain, rusak, terbuang dan sebagainya selama survei.
4)   Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang ada dirumah pada hari terakhir survei.
5)   Hitung berat bersih dari tiap-tiap bahan makanan yang digunakan keluarga selama periode survei.
6)   Catat pula jumlah anggota keluarga dan umur masing-masing yang ikut makan
7)   Hitung rata-rata perkiraan konsumsi keluarga atau konsumsi perkapita dengan membagi konsumsi keluarga dengan jumlah anggota keluarga.
Peralatan yang diperlukan dalam metode inventaris antara lain :
1)   Kuesioner
2)   Peralatan atau alat timbang
3)   Ukuran rumah tangga (URT)
Kelebihan dari metode inventaris :
1)   Hasil yang diperoleh lebih akurat, karena memperhitungkan adanya sisa dari makanan, terbuang dan rusak selama survei dilakukan.


Kekurangan metode inventaris:
1)   Petugas harus terlatih dalam menggunakan alat ukur dan formulir pencatatan.
2)   Tidak cocok untuk responden yang buta huruf, bila pencatatan dilakukan oleh responden.
3)   Memerlukan peralatan sehingga biaya relatif lebih mahal
4)   Memerlukan waktu yang relatif lama.
d.   Pencatatan Makanan Rumah Tangga (Household Food Record)
Pengukuran dengan metode household food record ini dilakukan sedikitnya dalam periode satu minggu oleh responden sendiri. Metode ini dilaksanakan dengan menimbang atau mengukur dengan URT seluruh makanan yang ada di rumah, termasuk cara pengolahannya.
Metode ini biasanya tidak menghitung sisa makanan yang terbuang dan dimakan oleh binatang piaraan. Metode ini dianjurkan untuk tempat/daerah dimana, tidak banyak variasi penggunaan bahan makanan dalam keluarga dan masyarakatnya sudah bisa membaca dan menulis.
Langkah-langkah metode household food record :
1)   Responden memcatat dan menimbang/mengukur semua makanan yang dibeli dan diterima oleh keluarga selama penelitian (biasanya satu minggu).
2)   Mencatat dan menimbang/menngukur  semua makanan yang dimakan keluarga termasuk sisa dan makanan yang domakan oleh tamu.
3)   Mencatat makanan yang dimakan anggota keluarga diluar rumah.
4)   Hitung rata-rata konsumsi keluarga atau konsumsi perkapita.
Kelebihan metode household food record :
1)      Hasil yang diperoleh lebih akurat.  
2)      Bila dilakukan dengan menimbang makanan, dapat dihitung intake zat gizi keluarga
Kekurangan metode household food record :
1)   Terlalu membebani responden
2)   Memerlukan biaya cukup mahal, karena responden harus dikunjungi lebih sering.
3)   Tidak cocok untuk responden buta huruf.
e.    Metode Telepon
Dewasa ini survei konsumsi dengan metode telepon semakin banyak digunakan terutama untuk daerah perkotaan dimana sarana komunikasi telepon sudah cukup tersedia. Untuk negara berkembang metode ini belum banyak dipergunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk jasa telepon.
Langkah-langkah metode telepon :
1)   Petugas melakukan wawancara terhadap responden melalui telepon tentang sediaan makanan yang dikonsumsi keluarga selama periode survei.
2)   Hitung persediaan makanan keluarga berdasarkan hasil wawancara memlaui telepon tersebut.
3)   Tentukan pola konsumsi keluarga.
Kelebihan metode telepon :
1)   Relatif cepat, karena tidak harus mengunjungi responden
2)   Dapat mencakup responden lebih banyak
Kekurangan metode telepon :
1)   Biaya relatif mahal untuk rekening telepon
2)   Sulit dilakukan untuk daerah yang belum mempunyai jaringan telepon
3)   Dapat menyebabkan terjadinya kesalahan interpretasi dari hasil informasi yang diberikan responden
4)   Sangat tergantung pada kejujuran dan motivasi serta kemampuan responden untuk menyampaikan makanan keluarganya.




3.    Tingkat Individu atau Kelompok
Metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu antara lain :
a.    Metode recall 24 jam
Metode recall adalah salah satu metode yang banyak digunakan dalam survey konsumsi makanan di berbagai belahan dunia walaupun pada dasarnya metode ini lebih cenderung termasuk kategori kualitatif.  Metod eini lebih mengedepankan kekuatan daya ingat individu yang diwawancarai dalam mengkonsumsi makanan selama 24 jam. Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lau. Dalam metode ini, responden, ibu, atau pengasuh (bila anak masih kecil) disuruh menceritakan semua yang dimakan dan minum selama 24 jam yang lalu(kemarin). Biasanya dimulai sejak bangun pagi kemarin sampai dia istirahat tidur malam harinya, atau dapat dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara mundur kebelakang sampai 24 jam penuh. Misalnya, petugas datang pukul 07.00 kerumah responden, maka konsumsi yang ditanyakan adalah mulai pukul 07.00 (saat itu) dan mundur kebelakang sampai pukul 07.00, pagi hari sebelumnya. Wawancara dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dengan menggunakan kuesioner terstruktur.
Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring, dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang bisa dipergunakan sehari-hari.Apabila pengukuran hanya dilakukan hanya 1 kali (1x24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu.  Oleh karena itu recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulangdan harinya tidak berturut-turut.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (sanjur, 1997).
Langkah-langkah pelaksanaan recall 24 jam :
1)   Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga(URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Dalam membantu responden untuk mengingat apa yang dimakan, perlu diberi penjelasan waktu kegiatannya seperti, waktu baru bangun, setelah sembayang, pulang dari sekolah/bekerja, sesudah tidur siang dan sebagainya. Selain dari makanan utama, makanan kecil atau jajan juga dicatat. Termasuk makanan yang dimakan diluar rumah seperti di restoran, kantor, di rumah teman atau saudara.untuk masyarakat perkotaan mengkonsumsi tablet yang mengandung vitamin dan mineral juga dicatat serta adanya pemberian tablet besi atau kapsul vitamin A. Petugas melakukan konversi dari URT kedalam ukuran berat (gram). Dalam menaksir/memperkirakan kedalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan alat bantu seperti contoh, ukuran rumah tangga piring, gelas, sendok, dan lain-lain) atau model dari makanan (food model). Makanan yang dikonsumsi dapat dihitung dengan alat bantu ini atau dengan menimbang langsung contoh makanan yang akan dimakan berikut informasi tentang komposisi makan jadi.
2)   Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).
3)   Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.
Agar wawancara berlangsung secara sistematis, perlu disiapkan kuesioner sebelumnya sehingga wawancara terarah menurut urut-urtan waktu dan pengelompokan bahan makanan.urutan makan sehari dapat disusun berupa makan pagi, siang, malam, dan snack serta makanan jajanan.
Pengelompokan bahan makanan dapat berupa makanan pokok, sumber protein nabati, sumber protein hewani, sayuran buah-buahan dan lainnya.
Metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, sebagai berikut :
Kelebihan metode recall 24 jam
1)   Mudah melaksanakannya, serta tidak terlalu membebani responden
2)   Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara
3)   Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden
4)   Dapat digunakan untuk responden buta huruf
5)   Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.
Kekurangan metode recall 24 jam
1)   Tidak dapat menggambarkan asupan makan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari.
2)   Ketepatannya sangata tergantung pada daya ingat responden. Oleh karena itu responden harus memilki daya ingat yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pad anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa.
3)   The flat slope syndrome yaitu, kecenderungan terhadap responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate).
4)   Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat. Pewawancara harus dilatih untuk dapat secara tepat menanyakan apa-apa yang dimakan oleh responden, dan mengenal cara-cara pengolahan makanan serta pola pangan daerah yang akan diteliti secara umum.
5)   Responden harus diberi motifasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian.
6)   Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir panen, pada saat melakukan upacra-upacara keagamaan, selamatan dan lai-lain.
Karena keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara, maka untuk dapat meningkatkan mutu data recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari yang berbeda (tidak berturut-turut), tergantung dari variasi menu keluarga dari hari ke hari.
b.    Metode estimated food records
Metode ini disebut juga food record atau diary record, yang digunakan untuk memncatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut.
Langkah-langkah pelaksanaan food record :
1)   Responden mencatat makan yang dikonsumsi dalam URT atau gram (nama masakan, cara persiapan, dan pemasakan bahan makanan).
2)   Petugas memperkirakan/estimasi URT kedalam ukuran berat (gram) untuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi.
3)   Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan DKBM.
4)   Membandingkan dengan AKG
Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi mendekati yang sebenarnya (true intake) tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
Kelebihan metode estimated food record :
1)   Metode ini relatif murah dan cepat
2)   Dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar
3)   Dapat diketahui konsumsi zat gizi sehari
4)   Hasilnya relatif lebih akurat
Kekurangan metode estimated food record :
1)   Metode ini terlalu membebani responden, sehingga sering menyebabkan responden merubah kebiasaan makannya.
2)   Tidak cocok untuk responden yang buta huruf
3)   Sangat tergantung pada kejujuran dan kemampuan responden dalam mencatat dan memperkirakan jumlah konsumsi.
c.    Metode penimbangan makanan (food weighing)
Metode penimbangan makanan merupakan metode yang paling mendekati angka asupan yang sebenarnya. Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi individu atau keluarga selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dan penelitian dan tenaga yang tersedia.
Metode ini memerlukan ketelitian dan kesabaran pewawancara dalam memisahkan bahan makanan yang ada didalam makanan yang akan ditimbang. Ketika menimbang makanan yang berkuah, pisahkan terlebih dahulu antara kuah dengan bahan- bahan yang ada dalam makanan tersebut, lalu timbang satu persatu.
Jika akan melakukan penimbangan makanan yang digoreng, pisahkan terlebih dahulu antara bahan dan minyak sebanyak mungkin sehingga minyak yang tertinggal dalam bahan makanan menjadi sedikit mungkin. Termasuk juga memisahkan bumbu yang melekat pada bahan makanan, baru dilakukan penimbangan atas bahan tersebut satu persatu.
Bahan yang ditimbang adalah bahan masak sehingga perlu diperhatikan konversi dari matang ke mentah untuk setiap bahan makanan yang ada, kemudian perlu juga diperhatikan bagian yang dapat dimakan untuk setiap bahan makanan. Selain itu juga harus diperhatikan kandungan minyak yang terdapat didalam hasil olahan makanan tersebut. Dengan demikian, asupan lemak dari suatu menu akan lebih banyak didapatkan.
Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan makanan :
1)   Petugas menyiapkan timbangan yang akan digunakan, disarankan menggunakan timbangan digital dengan tingkat ketelitian 1 gram.
2)   Petugas memilih bahan/ makanan yang akan ditimbang, lalu makanan tersebut dibersihkan dari bahan ikutan lain yang melekat pada bahan tersebut, barulah meletakannya diatas wadah timbangan.
3)   Petugas/responden menimbang dan mencatat bahan makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gram.
4)   Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan menggunakan DKBM atau DKGJ (Daftar Komposisi Jajanan).
5)   Membandingkan hasilnya dengan AKG
Perlu diperhatikan disini adalah, bila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga ditimbang sisa makanan tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi.
Kelebihan metode penimbangan :
1)   Data yang diperoleh lebih akurat/teliti
Kekurangan metode penimbangan :
1)   Memerlukan waktu dan cukup mahal karena perlu peralatan
2)   Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden  dapat merubah kebiasaan makan mereka.
3)   Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil
4)   Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden.
d.    Metode  Riwayat Makan (dietary history method)
Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bisa 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun). Burke (1997) menyatakan bahwa, metode ini terdiri dari tiga komponen yitu :
1)   Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir.
2)   Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.
3)   Komponen ketuga adalah pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang.
Langkah-langkah metode riwayat makan :
1)   Petugas menanyakan kepada responden tentang pola kebiasaan makannya. Variasi makan pada hari-hari khusus seperti libur, dalam keadaan sakit, dan sebagainya juga dicatat. Termasuk jenis makanan, frekuensi penggunaan, ukuran porsi dalam URT serta cara memasaknya (direbus, digoreng, dipanggang dan sebagainya).
2)   Lakukan pengecekan terhadap data yang diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan untuk kebenaran data tersebut.
Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengumpulan data adalah keadaan musim-musim tertentu terutama dihari-hari istimewa seperti ahri pasar, awal bula, hari raya dan sebagainya. Gambaran konsumsi pada hari-hari tersebut harus dikumpulkan.
Kelebihan metode riwayat makan :
1)   Dapat memberikan gambaran konsumsi pada periode yang panjang secara kualitatif dan kuantitatif.
2)   Biaya relatif murah
3)   Dapat digunakan diklinik gizi untuk membantu mengatasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan pasien
4)   Kekurangan metode riwayat makan :
5)   Terlalu membebani pihak pengumpul data dan responden
6)   Sangat sensitif dan membutuhkan pengumpul data yang sangat terlatih
7)   Tidak cocok dipakai untuk survei-survei besar
8)   Data yang dikumpulkan lebih bersifat kualitatif
9)   Biasanya hanya difokuskan pada makanan khusus, sedangkan variasi makanan sehari-hari tidak diketahui.
e.    Metode frekuensi makanan (food frequency)
Metode frekuensi makanan merupakan metode untuk mengukur kebiasaan makan individu atau keluarga sehari-hari sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif.
Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti, hari, minggu, bulan atau tahun. Metode ini sangat mengandalkan daya ingat, baik untuk yang ditanya/ individu sampel maupun yang menanya/ pewawancara. Oleh karena itu, pewawancara diisyaratkan harus mempunyai keahlian dan kemampuan yang tinggi dalam mengpersepsi segala sesuatu yang disampaikan narasumber, tentang tingkat keseringan narasumber dalam mengkonsumsi bahan makanan tertentu dalam hari, minggu, bulan dan tahun. Berdasarkan data yang didapatkan, kemudian dilakukan analisis rata-rata tingkat keseringan konsumsi bahan / makanan dalam satuan hari, minggu atau bulan dan tahun.
Ketika akan dicari rata-rata konsumsi makanan/ bahan makanan dalam hari, maka harus dicari data berapa kali jumlah konsumsi makanan tertentu dalam satu hari. Data dalam minggu kemudian dibagi 7 hari, bulan dibagi dengan 30 hari, serta tahun dibagi 360 hari untuk mendapatkan konsumsi rata-rata perhari.
 Metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tetapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan rangking tingkat konsumsi konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam survey konsumsi gizi. Cara ini juga sering digunakan untuk mengetahui pola konsumsi pada penderita penyakit tertentu. Sebagai contoh , pada penderita penyakit diabetes melitus, maka daftar bahan makanan yang dibuat sebaiknya hanya yang mengandung bahan/ makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh penderita DM saja.
 Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar kuesioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden.
Langkah-langkah metode food frequency :
1)   Terlebih dahulu harus disiapkan daftar bahan/ makanan yang akan diukur.
2)   Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar makanan yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaan bahan/ makanan dan ukuran porsinya.
3)   Lakukan perhitungan tentang penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.
4)   Bandingkan/ rujuk ke kategori yang berlaku untuk menentukan hasilnya.
Kelebihan metode frekuensi makanan :
1)   Relatif murah dan sederhana
2)   Dapat dilakukan sendiri oleh responden
3)   Tidak membutuhkan latihan khusus
4)   Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan
Kekurangan metode frekuensi makanan :
1)   Tidak dapat untuk menghitung intake gizi sehari
2)   Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data
3)   Cukup menjemukan bagi pewawancara
4)   Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner
5)   Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.

E.     Kesalahan Dalam Pengukuran Konsumsi Makanan.
Dalam melakukan pengukuran konsumsi makanan atau survey diet, sering terjadi kesalahan atau bias terhadap hasil yang diperoleh. Macam bias ini secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.      Bias secara acak
Bias acak terjadi karena kesalahan pengukuran tapi hasilnya tidak mempengaruhi nila rata-rata.
2.      Bias Sistematik
Bias sistematik terjadi karena:
a.         Kesalahan dari kuesioner, misal tidak memasukkan bahan makanan yang sebetulnya penting.
b.         Kesalahan pewawancara yang secara sengaja dan berulang melewatkan pertanyaan tentang makanan tertentu
c.         Kesalahan dari alat yang tidak akurat dan tidak di standarkan sebelum penggunaan.
d.        Kesalahan dari daftar komposisi bahan makanan.
Sumber bias dalam pengukuran konsumsi makanan berasal dari beberapa faktor, antara lain:
  1. Kesalahan atau bias dari pengumpul data.
  2. Kesalahan atau bias dari responden.
  3. Kesalahan atau bias karena alat.
  4. Kesalahan atau bias dari daftar komposisi bahan makanan.
  5. Kesalahan atau bias karena kehilangan zat gizi dalam proses pemasakan, perbedaan penyerapan dan penggunaan zat gizi tertentu berdasarkan perbedaan fisiologis tubuh.















BAB III
KESIMPULAN
  1. Survey konsumsi makanan merupakan cara yang digunakan untuk mengukur asupan zat gizi individu dan keluarga, dengan tujuan untuk membuat kebijakan, baik bagi pemerintah maupun petugas kesehatan di rumah sakit atau institusi lainnya. Kemampuan yang tinggi tentang metode ini wajib dimiliki oleh seorang ahli gizi karena merupakan salah satu kompetetnsi sebagai ahli gizi, baik Diploma III maupun Diploma IV atau sarjana gizi lainnya.
  2. Metode ini digunakan untuk mengukur konsumsi pangan, antara lain metode kualitatif, metode kuantitatif dan atau gabungan antara keduanya. Pemilihan metode harus diselaraskan dengan tujuan pengumpulan data. Umumnya suvey konsumsi pangan yang dilakukan di Indonesia menggunakan metode recall, food frekuency questionaire atau semikuantitatif FFQ, baik untuk skala kecil atau skala nasional.
  3. Setiap metode yang dipilih memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh, sebab itu, harus mencari solusi bagaimana mengurangi bahkan menghilangkan kekurangan metode tersebut, antara lain dengan melakukan kalibrasi alat, penyamaan persepsi, memilih petugas yang memiliki keahlian, melakukan pengecekan alat yang dipakai secara berkala serta berbagai cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan kelemahan tersebut sehingga hasil ukur benar-benar memiliki validitas yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan. Pilihlah metode yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian.
  4. Hasil ukur survey konsumsi pangan ini akan dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh pemerintah untuk menemukan atau menetapkan kebijakan pangan selanjutnya.




Lampiran 1. Contoh Formulir Metode Inventaris
a.         Susuna Anggota Keluarga
Nama Anggota Kelurga
Hubungan dengan KK
Jenis Kelamin
BB (kg)
TB (cm)
Pendidikan
Pendidikan
Kondisi Fisik
Keterangan
Utama
Tambahan



















































b.        Ketersediaan Bahan Makanan dalam Rumah Tangga
Hari ke :.................................................
Hari/Tgl
Nama Bahan Makanan
Banyaknya
Jumlah Uang
Asal (*)
Keterangan






























*) sawah, kebun, telagan, pekarangan, kolam, ternak, dan lai-lain

c.         Makanan yang Dihidangkan
Hari/Tgl
Makan Pagi/Siang/Malam*)
Nama-Nama Hidangan Keluarga Yang Makan
Jumlah Anggota yang Makan
Jumlah Tamu
Keterangan
























*) isi salah satu
d.        Makanan Diluar
Hari/Tgl
Anggota yang Makan Diluar Rumah
Jenis Bahan yang Dimakan
Tempat Makan *)
Keterangan
Jenis
Umur






























*) di restourant, warung, hotel, saudara, dan sebagainya

e.         Stok Bahan Makanan
Jenis Bahan Makanan
Stok Bahan Makanan Pada :
Hari-1
Hari-2
Hari-3
Hari-4
Hari-5
Hari-6
Hari-7








































Keterangan : Pencatatan stok harus dilakukan pada waktu yang sama setiap hari.












Lampiran 2. Contoh Formulir Metode Recall 24 Jam
Format Food Recall 24 jam
Nama
:


Alamat
:


Tanggal Lahir
:
Umur
:                       tahun                     bulan
BB
:
TB      
:
Jenis Kelamin
:   L / P
No. Kontak
:
Pewawancara
:
Tanggal Wawancara
:
Supervisor
:
Diperiksa Tanggal
:
Hari Ke
:



Waktu Makan
Menu
Bahan Makanan
Ukuran Rumah Tangga (URT)
Berat (gram)
Keterangan
Pagi / Jam








Siang / Jam









Malam / Jam



















Lampiran 3. Contoh Formulir Food Account
Formulir Food Account
Periode Tgl
:
Petugas Survei
:
Nama KK
:


Jumlah ART
:                              orang
Tanda Tangan
:
Alamat
:











Satuan unit
Harga per Satuan
Stok Awal
Hari ke-2
Hari ke-3
Hari ke-4
Hari ke-5
Hari ke-6
Hari ke-7
Jumlah Stok dalam 1 minggu
Makanan Pokok :
Beras
Singkong
dll










Protein Nabati :
Tahu
Tempe
Kacang Hijau
dll










Lauk Hewani:
Daging
Ayam
Ikan
dll




















Lampiran 4. Contoh Formulir FFQ
FormulirFood Frequency
Nama
:


Alamat
:


Tanggal Lahir
:
Umur
:                tahun              bulan
BB
:
TB      
:
Jenis Kelamin
:   L / P
No. Kontak
:
Pewawancara
:
Tanggal Wawancara
:
Supervisor
:
Diperiksa Tanggal
:
Hari Ke
:



Bahan Makanan
Frekuensi Penggunaan / Seberapa Sering Penggunaan Bahan Makanan
Keterangan
> 1x /Hari
1x /Hari
4-6x /Minggu
1-3x /Minggu
1x / Bulan
1x /Tahun

1.    Makanan pokok
a.       ...
b.      ...







2.    Lauk Hewani
a.       ...
b.      ....







3.    Lauk Nabati
a.       ...
b.      ....







4.    Sayur-sayuran
a.       .....
b.      ....







5.    Buah-buahan
a.       ....
b.      .....







6.    Lain-lain







Keterangan : S = small; M= Medium; L= Large







DAFTAR PUSTAKA
Gibson Rosalind S, 1990. Principles of Nutritional Assesment, Second Edition.Oxford University Perss, New York.
Gibson Rosalind S, 2005. Principles of Nutritional Assesment, Second Edition.Oxford University Perss, New York.
Hardinsyah dan Supariasa Nyoman Dewa, 2016. Ilmu Gizi : Teori dan Aplikasi. Jakarta : EGC.
Suparisa Nyoman Dewa I, dkk, .... Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran.
Willet W.,1990. Nutritional epidemiology. New York : Oxford University.






4 komentar: